Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘SOCIAL SCIENCES’ Category

“All science rest upon shifting sand” merupakan pernyataan Karl Popper sebagaimana dikutip Anthony Giddens di dalam bukunya berjudul The Conquence of Modernity. Kalimat itu mempunyai makna atau maksud bahwa tidak ada satu kebenaran yang pasti, bahkan pada ilmu-ilmu alam sekalipun yang selama ini mengklaim sebagai ilmu pasti, dan memonopoli serta menyebut diri sains. Yang disebut ilmu (sains) tidak lain adalah ilmu yang pasti, yang positivistik, selain itu tidak dapat dikatakan sebagai limu (sains). Berbeda dari kebenaran, pasti (kepastian) adalah kebenaran yang tepat, dapat diukur, tidak terpengaruh oleh sesuatu apapun dan tidak terikat oleh ruang dan waktu. Para ilmuwan ataupun filsuf  ketika itu beranggapan inilah yang paling unggul dan meyakini bahwa semestinya ada landasan yang sama sehingga semua ilmu seharusnya dapat diseragamkan, memiliki keseragaman. (lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Bidang Filsafat Ilmu (Pendidikan)

Berikut ini merupakan bentuk pertanyaan materi filsafat ilmu, filsafat ilmu pendidikan, menurut akademisi IPS universitas pendidikan Indonesia.

Bagian A:

  1. Perubahan yang harus dihadapi oleh masyarakat bangsa Indonesia dewasa ini sangat beragam dan kompleks. Kita berada dalam peralihan perdaban dari masyarakat pertanian ke masyarakat industri, kemajuan pesat di bidang ilmu dan teknologi, selain itu diterpa oleh tantangan modernisasi dan globalisasi.

a. Kondisi di atas menghidupkan isu-isu ketertinggalan, kemiskinan, dan kependudukan. Menurut anda, bagaimana pendidikan direncanakan untuk membangun kualitas peserta didik yang cerdas, tetapi tetap memiliki karekter nilai berbangsa, sehingga mereka merasa bangga sebagai anak Indonesia? Nilai-nilai dan kecerdasan apa saja yang perlu diraih peserta didik agar Indonesia tidak ketinggalan di tahun 2020?

b. Sebagai perancang pendidikan, filsafah dan filsafah pendidikan apa saja yang perlu dijadikan payung atau landasan berpijak? Cobalah elaborasi! (lebih…)

Read Full Post »

All science rest upon shifting sand” merupakan pernyataan Karl Popper sebagaimana dikutip Anthony Giddens di dalam bukunya berjudul The Conquence of Modernity. Kalimat itu mempunyai makna atau maksud bahwa tidak ada satu kebenaran yang pasti, bahkan pada ilmu-ilmu alam sekalipun yang selama ini mengklaim sebagai ilmu pasti, dan memonopoli serta menyebut diri sains. Yang disebut ilmu (sains) tidak lain adalah ilmu yang pasti, yang positivistik, selain itu tidak dapat dikatakan sebagai limu (sains). Berbeda dari kebenaran, pasti (kepastian) adalah kebenaran yang tepat, dapat diukur, tidak terpengaruh oleh sesuatu apapun dan tidak terikat oleh ruang dan waktu. Para ilmuwan ataupun filsuf  ketika itu beranggapan inilah yang paling unggul dan meyakini bahwa semestinya ada landasan yang sama sehingga semua ilmu seharusnya dapat diseragamkan, memiliki keseragaman. (lebih…)

Read Full Post »

bambang subiyakto

Mempersatukan kelompok-kelompok etnik ke dalam kesatuan Negara Bangsa  Afrika Selatan

Kalau bukan karena pengembangan bentuk prasangka kuat rasial (yang berbeda dari etnis), Afrika Selatan bisa berkembang menjadi jenis yang sama sebagai masyarakat yang harmonis. Ras campuran dan budaya Barat, seperti yang ditemukan di Amerika Latin. Memang, dari sudut pandang budaya, Cape Coloureds lebih bernuansa kebudayaan Afrikaner (orang Afrika). Sumbangan mereka pada Herrenvolk mencakup tiga karakteristik identifikasi utama, yaitu: Bahasa Afrika. (lebih…)

Read Full Post »

bambang subiyakto

Nasionalisme dari Pandangan Postmodernism

Dalam pandangan posmodernisme symbol-simbol seperti lagu kebangsaan, bendera, bahkan bahasa serta lambang-lambang kenegaraan lainnya hanyalah merupakan mitos dan legenda belaka bagi nasionalisme dan tegaknya negara-bangsa. (lebih…)

Read Full Post »

bambang subiyakto

Untuk individu yang khas (baik tempat tinggalnya dalam wilayah dan berbagi budaya telah dianggap sebagai diberikan oleh kelahiran, karena telah memperoleh identitas etnis dari orang tuanya. Etnisitas telah ditafsirkan sebagai memiliki basis biologis, kadang-kadang secara eksplisit dinyatakan dalam hal kekhususan rasial. Seorang etnosentris mungkin juga mengadopsi budaya baru, budaya menyangkal kelahirannya, mengingat bahwa budaya diadopsi bagaimanapun unggul dengan budaya kelahiran. (lebih…)

Read Full Post »

Etnosentrisme, Fenomena Arkaik Masyarakat Pra-modern

Pada era 1950 sampai 1960-an wacana etnisitas dalam kajian ilmu sosial berada dalam kondisi yang paling memprihatinkan. Etnisitas disikapi sebagai gejala pra-modern yang tidak sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi sehingga harus dilenyapkan dari kajian ilmu sosial. (lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »