Feeds:
Pos
Komentar
Iklan

Bambang Subiyakto.

Sejarah mencatat bahwa wilayah Borneo, Borneo Selatan dan Timur khususnya, telah lama menjadi ajang petualangan orang asing, khususnya Orang Eropa yang biasa disebut “Orang Bule”, atau “bule” saja. Mereka biasa melakukan petualangan dalam rangka eksplorasi dan eksploitasi. Untuk melaksanakan ini diperlukan persiapan matang dan maksimal sebab setiap perjalanan dilakukan akan makan waktu lama. Salah satu hal penting dalam pelaksanaan eksplorasi di Borneo Selatan dan Timur pada Abad Ke-19 membawa perbekalan berupa barang-barang yang dapat ditukar dengan barang atau keperluan lain. Selama perjalanan membawa barang-barang seperti kain, garam, tembakau dan manik-manik lebih bernilai daripada uang karena lebih mudah digunakan sebagai alat tukar di daerah-daerah perdalaman Borneo. Fakta sejarah ini seperti dialami Nieuwenhuis saat melakukan perjalanan melintasi wilayah Borneo dari Barat (Pontianak) ke Timur (Samarinda) tahun 1894-1900. Lanjut Baca »

“All science rest upon shifting sand” merupakan pernyataan Karl Popper sebagaimana dikutip Anthony Giddens di dalam bukunya berjudul The Conquence of Modernity. Kalimat itu mempunyai makna atau maksud bahwa tidak ada satu kebenaran yang pasti, bahkan pada ilmu-ilmu alam sekalipun yang selama ini mengklaim sebagai ilmu pasti, dan memonopoli serta menyebut diri sains. Yang disebut ilmu (sains) tidak lain adalah ilmu yang pasti, yang positivistik, selain itu tidak dapat dikatakan sebagai limu (sains). Berbeda dari kebenaran, pasti (kepastian) adalah kebenaran yang tepat, dapat diukur, tidak terpengaruh oleh sesuatu apapun dan tidak terikat oleh ruang dan waktu. Para ilmuwan ataupun filsuf  ketika itu beranggapan inilah yang paling unggul dan meyakini bahwa semestinya ada landasan yang sama sehingga semua ilmu seharusnya dapat diseragamkan, memiliki keseragaman. Lanjut Baca »

Kota Balikpapan Dalam Lintasan Sejarah
Bambang Subiyakto

I. Pengantar
Banyak daerah atau kota di Indonesia yang menghasilkan minyak bumi, namun hanya kota Balikpapan yang diberi predikat dan lebih dikenal sebagai “Kota Minyak”. Hasil bumi berupa minyaklah yang menjadi identitas kota ini sejak lama dan karenanya pradikat itu sejak lama pula menjadi kebanggaan bukan saja bagi rakyat Balikpapan atau Kalimantan Timur tetapi juga bagi bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, wajarlah bila sejarah Kota Balikpapan tidak bisa dipisahkan dari hal perminyakan. Namun demikian, pada era seperti sekarang ini rakyat Balikpapan tidak cukup hanya merasa bangga dengan identitas kotanya sebagai kota minyak dalam waktu sekian lama itu. Jauh lebih penting dari itu, adalah apakah dengan hasil bumi yang melimpah dan sangat berharga itu cukup berkontribusi bagi rakyat Balikpapan mendapat kemakmuran dan kesejahteraanya pada saat ini. Tuntutan semacam ini wajar saja sebab sebagaimana di dalam perjalanan sejarahnya, kota ini berikut rakyat penghuninya telah mengalami berbagai pahit getirnya kehidupan akibat dari adanya hasil bumi berupa minyak itu. Lanjut Baca »

Situs P2 Limnologi (ISSN 2086-5309) http://www.limnologi.lipi.go.id
________________________________________
Rabu, 24 Desember 2008
Hanya satu kapal kayu merapat di dermaga dari kayu ulin yang mulai lapuk. Gudang-gudang tua temboknya terkelupas. Gerimis menambah muram suasana Pelabuhan Martapura, sore itu. Pernah menjadi urat nadi Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pelabuhan itu kini menjadi kawasan yang ditinggalkan. Sepi dan mati.
Beratus tahun silam, kapal-kapal besar berlayar hingga ke Sungai Martapura. Dari sana, muatannya dibawa kelotok dan jukung menyusuri sungai-sungai yang berkelok hingga jauh ke jantung Pulau Borneo (Kalimantan). Dari pedalaman aneka barang, mulai dari lada hingga intan, diangkut hingga ke daratan Eropa.
Dari Pelabuhan Martapura, pada Juli 1957, Presiden Soekarno bersama sejumlah wartawan dari dalam dan luar negeri bertolak menuju jantung Borneo, yang hingga saat itu hanya bisa ditempuh melalui sungai. Soekarno dan rombongan menyusuri sungai hingga ke Pahandut (sekarang Palangkaraya).
Perjalanan Soekarno itu seperti mengingatkan pada ekspedisi para penjelajah Belanda yang menyusuri 49 sungai di Banjarmasin pada Mei-Juli 1847, seperti tertulis dalam Borneo Zuid Oostkust, yang menyebutkan tentang sungai-sungai yang berkelok-kelok dan tembus-menembus satu dengan lainnya. Ekspedisi itu mencatat tentang kehidupan orang Banjar yang tinggal di tepi sungai dan perahu yang menjadi satu-satunya sarana transportasi.
Hingga tahun 50-an, perahu masih menjadi alat transportasi utama di Kota Banjarmasin yang menghubungkan kampung-kampung dan pasar. Bahkan, sebagian pasar terletak di tengah sungai dengan pedagangnya menghanyut di atas perahu, seperti yang terlihat di pasar terapung Lok Baintan dan Muara Kuin.
Alat angkutan darat hampir tak dikenal waktu itu. Hampir semua daratan di Banjarmasin memang berupa rawa-rawa dan digenangi oleh air pasang-surut. Sebagian daratan di kawasan ini setengah meter berada di bawah permukaan air laut.
Kanal buatan
Pengajar ilmu sejarah yang juga Kepala Perpustakaan Pusat Universitas Lambungmangkurat (Unlam) Bambang Subiyakto mengatakan, selain sungai yang terbentuk secara alami, masyarakat Banjar sejak lama mengenal kanal buatan untuk kepentingan pengangkutan yang murah dan untuk irigasi pertanian lebak. Kemampuan membuat kanal itu diwariskan turun- temurun untuk menyikapi air pasang surut dari laut yang masuk hingga jauh ke pedalaman. Lanjut Baca »

bs95jg.11. Jika belum dapat menyelesaikan suatu masalah, sebaiknya tinggalkan saja dulu,
2. Ingatlah pada kenyataan bahwa tidak seorang pun dapat mengerjakan segala-galanya,
3. Keluarkanlah isi hati yang mengganggu pikiran, berkunjunglah ke rumah kawan atau saudara,
4.Bila pekerjaan selalu diburu ‘dead line’, sesekali keluarlah dari kerja rutin itu. Lakukanlah suatu kegiatan yang batas waktunya tidak terhingga dan selesaikan kapan saja mau,
5. Bila pekerjaan membutuhkan terlalu banyak kegiatan mental, lakukanlah aktivitas yang sama sekalai tidak memerlukan konsentrasi atau yang menyebabkan harus berpikir keras.-

1. Tidak menggantungkan nasib kepada apapun dan siapapun,
2. Tidak bersedia dibs95jgikat oleh balas budi atau balas jasa yang mewajibkan untuk mengorbankan rasa harga diri dan kedaulatan pribadi,
3. Tidak tergantung pada apa yang dihadapi melainkan pada bagaimana menghadapi,
4. Menghadapi dan menanggapi kenyataan hidup tanpa rasa terpaksa atau dipaksa,
5. Setia kepada apa yang diyakini benar dan adil.-