Raden dari Negeri Kawali dan teman-temannya
Antara 15 dan 20 kilometer dr kota Ci-amis pisan terdapat suatu daerah bernama Kawali. Daerah ini konon dahulunya merupakan pusat kerajaan Galuh Bungas. Barangkali salah satu keturuanan dari raja-raja Galuh Bungas sekarang ini adalah raden Kurni, Prof. Rd. Kurni yang saat ini tengah berupaya keras membangun dan memajukan kerajaan warisan leluhurnya. Rd. Kurni merupakan seorang pakar pendidikan yang mumpuni, belum ada sekarang ini yang setara dengannya dalam hal kepakarannya dalam bidang pendidikan. Dia pun sangat meyakini bahwa untuk kemajuan negeri dan rakyatnya pendidikanlah yang menjadi landasan utama.
Bersama sahabatnya raja dari negeri di timur kerajaan Kawali, Rd. Sastro, bekerjasama memajukan negeri masing-masing dengan meletakan pendidikan sebagai landasan. Akan tetapi, mereka sesungguhnya tidak hanya berdua. Masih ada lagi raja2 negeri seberang yang selain sebagai sahabat keduanya juga memiliki kesamaan visi dan komitmen dalam memajukan negeri dan rakyat mereka masing-masing. Sebut saja raja yang berkuasa di negeri seberang di utara, Pangeran Warman, negeri seberang di bagian timur ada Raden Irwansyah dan Pangeran Halimansyah.
Di lingkungan kerabatnya, Rd. Kurni didampingi oleh para pakar pendidikan yang juga mumpuni. Ada Rd Sughandi, Pangeran Sudrajat dan Pangeran Pernama, Ratu Siti, Raden Ayu Susanti dan Raden Ayu Pujiwati. Di lain pihak kerabat Rd. Sastro, di bagian timur kerajaannya berkuasa Pangeran Naimullah dan Rd. Supriyo. Rd. Sastro juga dibantu oleh seorang saudaranya, Gusti Putri Ayuningsih.
Mereka semua itu pada dasarnya adalah para Raden (Rd), yang sebentar lagi gelar ini juga akan bergandengan dengan huruf berbalikannya, yaitu Dr (Doktor). Ya, Doktor apalagi kalau bukan Doktor Pendidikan. Mereka semua ini juga mempunyai kemampuan nyaris setara dengan Prof. Rd. Kurni. Bahkan beberapa dari mereka sangat yakin dan sudah mulai merancang bila kelak selesai akan menambahkan kata Edu (education) sesudah huruf Dr., tepatnya gelar lengkapnya menjadi Dr.(Edu)., guna menunjukan kekhasan kepakarannya yang membanggakan. Sebagian malah katanya akan merasa lebih cocok dengan Dr. (Ped). Maksud dari Ped. adalah pedagogy.
Mereka itu sangat dikenal di kalangan rakyatnya, bukan semata karena sebagai pemimpin atau yang berkuasa melainkan juga kerena kepakarannya yang luar biasa. Rakyat di masing-masing negeri sangat yakin dan percaya visi dan misi negara dengan pendidikan sebagai landasannya dari para raden atau pangeran itu, akan membangkitkan mereka dari keterpurukan. Bahkan sebagai rakyat merasa mereka sudah lebih maju dari bangsa dan makhluk-makhluk lain di muka bumi ini, bukan karena teragitasi dari para pemimpin mereka melain karena menurut mereka telah terbukti.
Jika menginkan air, mereka mampu menciptakan air dalam jumlah volume yang luar biasa. Negeri mereka bisa dibanjiri air yang melimpah ruah sehingga mereka tidak kekurangan air. Jika mereka menginginkan api, mereka bisa menciptakan api yang berkobar-kobar di permukiman atau di lahan-lahan mereka. Jika mereka ingin berolah raga menjaga kebugaran tubuh dan melatih kesabaran, mereka segera menciptakan antrian panjang. Entah itu berupa antri bbm, zakat, di loket-loket birokrasi, pengobatan alternative, dan bahkan arisan agar kesabaran terlatih. Untuk kebugaran fisik, mereka punya arena latihan perang-perangan antar kelompok, antar etnik, antar pelajar, antar kampong, eloknya lagi dipandu para polisi dan Pol PP. Rapi dan kompak sekali, menimbulkan rasa iri negeri-negeri lain di muka bumi.
Para pemimpin, pangeran, Rd., Dr. (Edu) ataupun Dr. (Ped) merupakan tokoh-tokoh terkemuka dan utama di negerinya masing-masing. Kesemuanya berjumlah 13 orang dan sadar betul akan kemampuan dan sikap mumpuninya yang luar biasa. Mereka semua orang-orang sakti dengan tingkat ilmu yang maha tinggi. Mereka semua stately, sungguh menganggumkan. Di samping ke-13 pemimpin dan penguasa maha sakti itu, ada seorang stateless, pengembara yang compang camping penuh luka. Wajah dan fisiknya sangat tidak menarik bagi para pria perkasa, apalagi bagi para gay. Dari 6 miliar orang penghuni bumi hanya satu dua wanita saja yang merasa tertarik pada penampilannya, itupun sebenarnya lebih karena pada perasaan iba. Ia sama sekali tidak dikenal meskipun dia juga punya nama. Ya, hanya nama tanpa gelar apapun karena memang dia hanya seorang warga dunia biasa yang terlanjur diciptakan dan terlahir di muka bumi. Nama orang ini adalah Brengsek Skali, seringkali disingkat BS begitu saja. Nama yang sangat aneh memang, mustahil rasanya jika nama itu berasal dari kedua orang tuanya, tapi demikianlah konon nyatanya nama itu.
BS dikenal oleh amat sangat sedikit orang, itupun karena ia setengah diakui sebagai teman dari ke-13 orang pangeran maha sakti. Jika tidak pastilah tak seorang pun mengenalnya dan tahu bahwa ia hadir di muka bumi. BS yang compang camping, dekil dan berkulit hitam sedikit seperti bersisik, masih ditambah lagi dengan keterbatasan kemampuan intelektualnya sungguh seperti antara langit dan bumi jika dibandingkan dengan ke-13 tokoh sakti. Diakui sebagai setengah teman sudah sangat disyukurinya, karena dengan demikian itu, selama ini ia telah mendapat kesempatan mereguk ilmu kesaktian. Akan tetapi, karena kapasitas intelektualnya yang terbatas maka daya nalar dan logikanya pun rendah. Tidak ada kesaktian yang bisa ia raih, sehingga mustahil untuk menjadi sakti mandraguna seperti 13 tokoh stately itu, apalagi bisa seperti Prof. Rd. Kurni.
Catatan:
‘Kawali’ berasal dari kata ‘kawal’ dalam bahasa banjar yang berarti ‘teman’ dalam bahasa sebuah negeri super ngawur. Ditambah akhiran -i dalam bahasa banjar menjadi ‘kawali’ yang berarti ‘temani’. Kata ‘galuh’ pun berasal dari bahasa banjar yang maksudnya panggilan anak gadis dan kata ‘bungas’ berarti cantik, galuh bungas = gadis cantik.