<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Sungai Mengalir Sungai Besar</title>
	<atom:link href="http://subiyakto.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://subiyakto.wordpress.com</link>
	<description>to worry along, to worry out</description>
	<lastBuildDate>Thu, 28 Apr 2011 12:46:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='subiyakto.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Sungai Mengalir Sungai Besar</title>
		<link>http://subiyakto.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://subiyakto.wordpress.com/osd.xml" title="Sungai Mengalir Sungai Besar" />
	<atom:link rel='hub' href='http://subiyakto.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Filsafat Ilmu (Pendidikan)</title>
		<link>http://subiyakto.wordpress.com/2011/03/11/filsafat-ilmu-pendidikan/</link>
		<comments>http://subiyakto.wordpress.com/2011/03/11/filsafat-ilmu-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Mar 2011 05:01:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambang subiyakto</dc:creator>
				<category><![CDATA[LINK]]></category>
		<category><![CDATA[SOCIAL SCIENCES]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://subiyakto.wordpress.com/?p=315</guid>
		<description><![CDATA[Bidang Filsafat Ilmu (Pendidikan) Berikut ini merupakan bentuk pertanyaan materi filsafat ilmu, filsafat ilmu pendidikan, menurut akademisi IPS universitas pendidikan Indonesia. Bagian A: Perubahan yang harus dihadapi oleh masyarakat bangsa Indonesia dewasa ini sangat beragam dan kompleks. Kita berada dalam peralihan perdaban dari masyarakat pertanian ke masyarakat industri, kemajuan pesat di bidang ilmu dan teknologi, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=subiyakto.wordpress.com&amp;blog=1186283&amp;post=315&amp;subd=subiyakto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bidang Filsafat Ilmu</strong> (Pendidikan)</p>
<p>Berikut ini merupakan bentuk pertanyaan materi filsafat ilmu, filsafat ilmu pendidikan, menurut akademisi IPS universitas pendidikan Indonesia.</p>
<p>Bagian A:</p>
<ol>
<li>Perubahan yang harus dihadapi oleh masyarakat      bangsa Indonesia      dewasa ini sangat beragam dan kompleks. Kita berada dalam peralihan      perdaban dari masyarakat pertanian ke masyarakat industri, kemajuan pesat      di bidang ilmu dan teknologi, selain itu diterpa oleh tantangan      modernisasi dan globalisasi.</li>
</ol>
<p>a. Kondisi      di atas menghidupkan isu-isu ketertinggalan, kemiskinan, dan kependudukan.      Menurut anda, bagaimana pendidikan direncanakan untuk membangun kualitas      peserta didik yang cerdas, tetapi tetap memiliki karekter nilai berbangsa,      sehingga mereka merasa bangga sebagai anak Indonesia? Nilai-nilai dan      kecerdasan apa saja yang perlu diraih peserta didik agar Indonesia tidak      ketinggalan di tahun 2020?</p>
<p>b. Sebagai      perancang pendidikan, filsafah dan filsafah pendidikan apa saja yang perlu      dijadikan payung atau landasan berpijak? Cobalah elaborasi!<span id="more-315"></span></p>
<p>2. Pendidikan      IPS di dalam persepsi siswa sering dipandang sebagai pelajaran tidak      penting dibandingkan dengan Matematika, IPA. Atau bahasa Inggris. Hal ini      didukung oleh fakta bahwa pelajaran IPS tidak masuk ujian Negara. Kondisi      ini semakin merendahkan penilaian umum dan siswa terhadap pembelajaran      IPS.</p>
<p>a. Buatlah      rencana revitalisasi untuk pendidikan IPS, agar siswa merasa tertarik, dan      merupakan pilihan pertama dalam tujuan pendidikan lanjutannya!</p>
<p>b. Apakah      aspek epistemologis IPS sudah perlu dibelajarkan di jenjang persekolahan?      Cobalah anda diskusikan baik dari segi positifnya atau segi negatifnya!</p>
<p>Bagian B:</p>
<p>Ilmu Pengetahuan Sosial sebagai suatu kajian, berkarakter multidisipliner dan interdisipliner. Atas hakikat tersebut, anda dipersilahkan membahas persolan-persoalan berikut ini.</p>
<ol>
<li>Dewasa      ini secara beruntun, wilayah Indonesia dilanda bencana, mulai dari letusan      gunung merapi, gempa bumi, banjir, tanah longsor sampai cuaca ekstrim yang      tidak menentu. Atas kenyataan fenomena yang demikian itu, anda      dipersilahkan mengkaji persoalan di bawah ini.</li>
</ol>
<p>a. Analisis      dampak sosial, ekonomi, budaya dan psikologis dari fenomena alam tersebut      di atas kepada para petani dan nelayan di Indonesia saat ini.</p>
<p>b. Perilaku-perilaku      sosial, ekonomi, budaya dan psikologi masyarakat Indonesia, terutama di      kota-kota besar terhadap terjadinya bencana tersebut.</p>
<p>2. Berdasarkan      hasil sensus penduduk terakhir, pertumbuhan populasi penduduk Indonesia,      wajib diwaspadai. Atas dasar kenyataan tersebut, anda dimohon membahas      persoalan dampak kesenjangan (ketidakseimbangan) antara pertumbuhan      polulasi penduduk dengan daya dukung ruang pada aspek-aspek kehidupan      sosial, ekonomi, budaya, psikologis dan kebijakan publik. Mohon juga anda      petakan problematika tersebut.</p>
<p>Materi bahasan  ’filsafat’ semacam itu merupakan temuan atau cara baru dan akan disosialisasikan lebih intensif pada tahun 2020 dan seterusnya. Pertanyaan-pertanyaan di atas merupakan pertanyaan pada soal ujian komprehensi strata tiga bidang ’filsafat’ ilmu. Para pengkaji filsafat kiranya tak perlu merasa aneh karena memang tidak ada yang aneh dan biasa-biasa saja. Justeru ini yang paling sesuai dengan keunikannya. Selamat berfilsafat.</p>
<p><strong>THE FIVE KEY EDUCATIONAL PHILOSOPHIES</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<div id="attachment_316" class="wp-caption alignleft" style="width: 262px"><strong><strong><a href="http://subiyakto.files.wordpress.com/2011/03/william-bagely-essentialism.jpg"><img class="size-medium wp-image-316" title="William Bagely - Essentialism" src="http://subiyakto.files.wordpress.com/2011/03/william-bagely-essentialism.jpg?w=252&#038;h=300" alt="" width="252" height="300" /></a></strong></strong><p class="wp-caption-text">William Bagely - Essentialism</p></div>
<p><strong>Essentialism</strong>. Educators of the essentialism approach teach the basic skills of math, natural science, history, foreign language (ex. Latin &amp; Greek), and literature. The teacher is responsible for installing moral values that will help the student on the road to becoming an ideal citizen. The students are taught factual information and are not offered any vocational training. The classroom setting is very rigid and disciplined. Students are rated academically by testing. Both the teacher and the administrators decide what is best for the student. This creates an atmosphere where students do not expand their minds creatively.</p>
<p><strong> </strong></p>
<div id="attachment_317" class="wp-caption alignright" style="width: 139px"><strong><strong><a href="http://subiyakto.files.wordpress.com/2011/03/rene-guenon-prennialism.jpg"><img class="size-full wp-image-317" title="Rene Guenon - Perennialism" src="http://subiyakto.files.wordpress.com/2011/03/rene-guenon-prennialism.jpg?w=129&#038;h=187" alt="" width="129" height="187" /></a></strong></strong><p class="wp-caption-text">Rene Guenon - Perennialism</p></div>
<p><strong>Perennialism</strong>. In Perennialism the belief was that you taught &#8220;everlasting&#8221; information to the students. The main idea was to stimulate thought provoking discussions from different topics presented to the student. As in essentialism the teacher is the center of the instruction. The educator was responsible for teaching principals not facts. Their goal was to open the students mind to scientific reasoning, and that factual information may be proven false. A major difference between the two philosophies is in perinnialism the student input is important. Using this approach helps the individual thinker in each student blossom.</p>
<p><strong> </strong></p>
<div id="attachment_318" class="wp-caption alignleft" style="width: 235px"><strong><strong><a href="http://subiyakto.files.wordpress.com/2011/03/john-dewey-progressivism.jpg"><img class="size-medium wp-image-318" title="John Dewey - Progressivism" src="http://subiyakto.files.wordpress.com/2011/03/john-dewey-progressivism.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a></strong></strong><p class="wp-caption-text">John Dewey - Progressivism</p></div>
<p><strong>Progressivism</strong>. This is the first philosophical approach that takes into consideration the three learning types (auditory, visual and kinesthetic learners) of students. In a progressive approach classroom you will see thought provoking games, books, manipulative objects, experimentation and social interaction between the students. This approach also uses field trips outside of the classroom for educational purposes. Progressive philosophy isn&#8217;t center around the main goal of educating students for adulthood. Instead this approach was meant to enrich the educational growth process.</p>
<p><strong>Existentialism</strong>. An existentialism school didn&#8217;t enforce formal education. Instead it nurtured the creativity, and individuality of the student. It was felt that in time a student would mature by themselves, and decide what direction was suitable to pursue. In an existentialist school children would be given a variety of subjects to choose from. Vocational courses were to teach the student about themselves, and not to prepare them for a future occupation. The student pursued the subject of their choice, learning method, and worked at their own pace. They received one-on-one guidance from their teacher. Existentialism was an independent study program rather than a traditional class.</p>
<p><strong>Behaviorism (Bayla Maya)</strong>. According to behaviorism we can teach our students by reprogramming them. It is possible to change students&#8217; behavior by reconditioning them. This may be done by taking the negative stimuli away from the student. In time the student learns to control the behavior. The behaviorism approach also states that the student can be condition to learn or perform anything taught to them. This can be done by using rewards for an appropriate response. Both of these methods can be effective when used over a long period of time.</p>
<p><strong> </strong></p>
<div id="attachment_319" class="wp-caption alignright" style="width: 188px"><strong><strong><a href="http://subiyakto.files.wordpress.com/2011/03/ivan-illich-reconstructivism.jpg"><img class="size-medium wp-image-319" title="Ivan Illich - Reconstructivism" src="http://subiyakto.files.wordpress.com/2011/03/ivan-illich-reconstructivism.jpg?w=178&#038;h=300" alt="" width="178" height="300" /></a></strong></strong><p class="wp-caption-text">Ivan Illich - Reconstructivism</p></div>
<p><strong>Reconstructionism (Josh Byrom)</strong>. Reconstructionism centers instruction around how one can improve society. For instance, a teacher may instruct their students on The Lottery and then assign something to have students see how they can improve social injustices. The goal of a Reconstructionist is to educate their students on how they can improve society for future generations.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/subiyakto.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/subiyakto.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/subiyakto.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/subiyakto.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/subiyakto.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/subiyakto.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/subiyakto.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/subiyakto.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/subiyakto.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/subiyakto.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/subiyakto.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/subiyakto.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/subiyakto.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/subiyakto.wordpress.com/315/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=subiyakto.wordpress.com&amp;blog=1186283&amp;post=315&amp;subd=subiyakto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://subiyakto.wordpress.com/2011/03/11/filsafat-ilmu-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e26739ae688bdb71b98eca9a84ed1c92?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">subiyakto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://subiyakto.files.wordpress.com/2011/03/william-bagely-essentialism.jpg?w=252" medium="image">
			<media:title type="html">William Bagely - Essentialism</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://subiyakto.files.wordpress.com/2011/03/rene-guenon-prennialism.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Rene Guenon - Perennialism</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://subiyakto.files.wordpress.com/2011/03/john-dewey-progressivism.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">John Dewey - Progressivism</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://subiyakto.files.wordpress.com/2011/03/ivan-illich-reconstructivism.jpg?w=178" medium="image">
			<media:title type="html">Ivan Illich - Reconstructivism</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pembelajaran IPS Komprehensif</title>
		<link>http://subiyakto.wordpress.com/2011/03/09/pembelajaran-ips-komprehensif/</link>
		<comments>http://subiyakto.wordpress.com/2011/03/09/pembelajaran-ips-komprehensif/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Mar 2011 14:49:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambang subiyakto</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTIKEL]]></category>
		<category><![CDATA[LINK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://subiyakto.wordpress.com/?p=306</guid>
		<description><![CDATA[Bagian A: 1. Tiga pakar belajar antara lain Albert Bandura yang terkenal dengan Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory), Jean Piaget terkenal dengan Teori Tingkat Perkembangan (Stage Theory of Development), Lev Vygotsky, Teori Perkembangan Sosial (Social Development Theory). Bandingkan substansi esensial dari ketiganya dan menurut anda yang mana di antaranya yang paling sesuai dengan pembelajaran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=subiyakto.wordpress.com&amp;blog=1186283&amp;post=306&amp;subd=subiyakto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagian A:<br />
1. Tiga pakar belajar antara lain Albert Bandura yang terkenal dengan Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory), Jean Piaget terkenal dengan Teori Tingkat Perkembangan (Stage Theory of Development), Lev Vygotsky, Teori Perkembangan Sosial (Social Development Theory). Bandingkan substansi esensial dari ketiganya dan menurut anda yang mana di antaranya yang paling sesuai dengan pembelajaran IPS dan jelaskan mengapa?<br />
2. Tidak bisa dipungkiri pembelajaran IPS di sekolah-sekolah masih mengalami kendala antara separated dan integrated teaching and learning process/approaches. menurut bacaan-bacaan anda atau pengalaman anda pribadi, mengapa ini masih terjadi dan apakah anda mempunyai solusi untuk memecahkannya?<br />
3. jelaskan apa yang dimaksud dengan pembelajaran konstruktivis dan/atau pembelajaran kontekstual IPS? Berilah beberapa contoh.<span id="more-306"></span>Bagian B:<br />
1. Buatlah sebuah formulasi desain model pembelajaran IPS yang tepat untuk dapat membelajarkan karakter dan wawasan kebangsaan dalam diri siswa! Kemukakan pula rasional pengembangan modelnya!<br />
2. Dinamika Perkembangan Peran dan Fungsi Guru IPS dalam Bidang Pembelajaran:<br />
a. Mengapa untuk mewujudkan kelancaran program Pembelajaran IPS, setiap guru IPS perlu memilki kompetensi profesi, sertifikat pendidik dan kualifikasi akademik yang relevan dengan bidang pekerjaannya masing-masing? Jelaskan!<br />
b. Kemukakan dan jelaskan kebijakan publik yang akan turut berpengaruh terhadap profil guru IPS Indonesia di masa kini dan masa yang akan datang?</p>
<p><strong>Albert Bandura</strong> nació el 4 de diciembre de 1925 en la pequeña localidad de Mundare en Alberta del Norte, Canadá.</p>
<div id="attachment_307" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://subiyakto.files.wordpress.com/2011/03/bandura.png"><img class="size-full wp-image-307" title="Albert Bandura" src="http://subiyakto.files.wordpress.com/2011/03/bandura.png?w=150&#038;h=149" alt="Bandura" width="150" height="149" /></a><p class="wp-caption-text">Social Learning Theory</p></div>
<p><strong>Teoría. </strong>El conductismo, con su énfasis sobre los métodos experimentales, se focaliza sobre variables que pueden observarse, medirse y manipular y rechaza todo aquello que sea subjetivo, interno y no disponible (p.e. lo mental). En el método experimental, el procedimiento estándar es manipular una variable y luego medir sus efectos sobre otra. Todo esto conlleva a una teoría de la personalidad que dice que el entorno de uno causa nuestro comportamiento.</p>
<p><strong></p>
<div id="attachment_312" class="wp-caption alignright" style="width: 201px"><strong><a href="http://subiyakto.files.wordpress.com/2011/03/piaget-11.jpg"><img class="size-full wp-image-312" title="Jean Piaget " src="http://subiyakto.files.wordpress.com/2011/03/piaget-11.jpg?w=191&#038;h=287" alt="" width="191" height="287" /></a></strong><p class="wp-caption-text">Stage Theory of Development</p></div>
<p>Jean Piaget</strong>. Piaget found four stages of mental growth while studying children, particularly his own: a sensory-motor stage, from birth to age two, when mental structures concentrate on concrete (or real) objects; a pre-operational stage, from age two to seven, when children learn symbols in language, fantasy, play, and dreams; a concrete operational stage, from age seven to eleven, when children master classification, relationships, numbers, and ways of reasoning (arguing to a conclusion) about them; finally, a formal operational stage, from age eleven, when they begin to master independent thought and other people&#8217;s thinking.</p>
<p><strong>Lev Vygotsky</strong>. The major theme of Vygotsky&#8217;s theoretical framework is that social interaction plays a fundamental role in the development of cognition. Vygotsky (1978) states: &#8220;Every function in the child&#8217;s cultural development appears twice: first, on the social level, and later, on the individual level; first, between people (interpsychological) and then inside the child (intrapsychological). This applies equally to voluntary attention, to logical memory, and to the formation of concepts. All the higher functions originate as actual relationships between individuals.&#8221;</p>
<div id="attachment_309" class="wp-caption alignleft" style="width: 226px"><a href="http://subiyakto.files.wordpress.com/2011/03/vygotsky.gif"><img class="size-full wp-image-309" title="Lev Vygotsky" src="http://subiyakto.files.wordpress.com/2011/03/vygotsky.gif?w=216&#038;h=252" alt="" width="216" height="252" /></a><p class="wp-caption-text">Social Development Theory</p></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/subiyakto.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/subiyakto.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/subiyakto.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/subiyakto.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/subiyakto.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/subiyakto.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/subiyakto.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/subiyakto.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/subiyakto.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/subiyakto.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/subiyakto.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/subiyakto.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/subiyakto.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/subiyakto.wordpress.com/306/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=subiyakto.wordpress.com&amp;blog=1186283&amp;post=306&amp;subd=subiyakto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://subiyakto.wordpress.com/2011/03/09/pembelajaran-ips-komprehensif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e26739ae688bdb71b98eca9a84ed1c92?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">subiyakto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://subiyakto.files.wordpress.com/2011/03/bandura.png" medium="image">
			<media:title type="html">Albert Bandura</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://subiyakto.files.wordpress.com/2011/03/piaget-11.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Jean Piaget </media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://subiyakto.files.wordpress.com/2011/03/vygotsky.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Lev Vygotsky</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Inland Navigation in Southeast Kalimantan: A Historical Study of Water Transportation In The Nineteenth Century</title>
		<link>http://subiyakto.wordpress.com/2011/01/19/inland-navigation-in-southeast-kalimantan-a-historical-study-of-water-transportation-in-the-nineteenth-century/</link>
		<comments>http://subiyakto.wordpress.com/2011/01/19/inland-navigation-in-southeast-kalimantan-a-historical-study-of-water-transportation-in-the-nineteenth-century/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Jan 2011 15:52:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambang subiyakto</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTIKEL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://subiyakto.wordpress.com/?p=298</guid>
		<description><![CDATA[Bambang Subiyakto Abstract The main aim of this writing is to study the water transportation system of inland navigation in Southeast Kalimantan in the nineteenth century as seen from the historical perspective. It is hoped that the study will be able to reconstruct the process of the past history of Southeast Kalimantan and concomitantly enrich [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=subiyakto.wordpress.com&amp;blog=1186283&amp;post=298&amp;subd=subiyakto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<a href='http://subiyakto.wordpress.com/2011/01/19/inland-navigation-in-southeast-kalimantan-a-historical-study-of-water-transportation-in-the-nineteenth-century/rivier-te-bandjermasin-circa-1870/' title='Rivier te Bandjermasin (Circa 1870)'><img width="150" height="104" src="http://subiyakto.files.wordpress.com/2011/01/rivier-te-bandjermasin-circa-1870.jpg?w=150&#038;h=104" class="attachment-thumbnail" alt="Rivier te Bandjermasin, 1870" title="Rivier te Bandjermasin (Circa 1870)" /></a>
<a href='http://subiyakto.wordpress.com/2011/01/19/inland-navigation-in-southeast-kalimantan-a-historical-study-of-water-transportation-in-the-nineteenth-century/woonbooten-langs-de-soengei-kween-te-bandjermasin-circa-1899/' title='Woonbooten langs de soengei Kween te Bandjermasin (Circa 1899)'><img width="150" height="98" src="http://subiyakto.files.wordpress.com/2011/01/woonbooten-langs-de-soengei-kween-te-bandjermasin-circa-1899.jpg?w=150&#038;h=98" class="attachment-thumbnail" alt="Antasan Kuin 1899" title="Woonbooten langs de soengei Kween te Bandjermasin (Circa 1899)" /></a>

<p><strong>Bambang Subiyakto</strong></p>
<p><strong>Abstract</strong></p>
<div id="attachment_299" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><strong><strong><a href="http://subiyakto.files.wordpress.com/2011/01/rivier-te-bandjermasin-circa-1870.jpg"><img class="size-medium wp-image-299" title="Rivier te Bandjermasin (Circa 1870)" src="http://subiyakto.files.wordpress.com/2011/01/rivier-te-bandjermasin-circa-1870.jpg?w=300&#038;h=209" alt="Rivier te Bandjermasin, 1870 " width="300" height="209" /></a></strong></strong><p class="wp-caption-text">Bambang Subiyakto</p></div>
<div id="attachment_300" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><strong><strong><a href="http://subiyakto.files.wordpress.com/2011/01/woonbooten-langs-de-soengei-kween-te-bandjermasin-circa-1899.jpg"><img class="size-medium wp-image-300" title="Woonbooten langs de soengei Kween te Bandjermasin (Circa 1899)" src="http://subiyakto.files.wordpress.com/2011/01/woonbooten-langs-de-soengei-kween-te-bandjermasin-circa-1899.jpg?w=300&#038;h=197" alt="Antasan Kuin 1899" width="300" height="197" /></a></strong></strong><p class="wp-caption-text">Jukung besar tempat tinggal 1899</p></div>
<p><strong> </strong></p>
<p>The main aim of this writing is to study the water transportation system of inland navigation in Southeast Kalimantan in the nineteenth century as seen from the historical perspective. It is hoped that the study will be able to reconstruct the process of the past history of Southeast Kalimantan and concomitantly enrich the corpus of literature in Indonesian history in general.<span id="more-298"></span></p>
<p>This research concerns with the water transportation system in Southeast  Kalimantan and it was conducted through documentary study and library research by collecting data on inland navigation of the region in the nineteenth century. Written sources were mainly obtained from the National Archives of the Republic of Indonesia and from a number of libraries in Jakarta and Yogyakarta. As befitting a historical research, the process of examining the sources becomes an important part and the use of theoretical and conceptual framework is adjusted to the research topic and materials obtained. The main problem to be resolved in this research is, among other things, related to an attempt to account for the interrelationship between the process of transportation development and the sociaI and economic development of the community of the inland navigation areas in Southeast Kalimantan.</p>
<p>One of the important aspects highlighted in this research is the status and the role of trade between the areas around the upper reaches of the river and those at the estuary which are important for the economy of Southeast Kalimantan. Research finding reveals that the water transportation system is the most significant supporting factor in the development of the economy as well as the community in the area. Inland navigation has proved to be the backbone of trading activities, between the hinterland and the areas at the estuary. At the same time it also integrates the community&#8217;s sociaI and political life; it also affects the sociocultural aspects and demography in the hinterland of Southeast Kalimantan in the nineteenth century. The research also reveals the importance of water transportation for the traditional community within the process of the social economic history of the region. This also shows that rivers have played an important role in the development of local history in Indonesia in accord with its geographical and ecological conditions such as those of Southeast Kalimantan.</p>
<p>One related aspect that reveals are concerned with technology development of the means for water transportation from the past to the nineteenth century and early twentieth century. Besides, the study aims at describing the development of communication and transportation in accordance with the technology prevailing at those times. However due to the limitation of available sources, other aspects concerning explanation of the problems have not been fully presented, so that there is a need for further research. It is hoped that this writing will open up new areas for research on the social and economic history of Southeast  Kalimantan in the future.</p>
<p>Keywords: <em>inland navigation </em>- <em>water transportation </em>&#8211; <em>trade</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/subiyakto.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/subiyakto.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/subiyakto.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/subiyakto.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/subiyakto.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/subiyakto.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/subiyakto.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/subiyakto.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/subiyakto.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/subiyakto.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/subiyakto.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/subiyakto.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/subiyakto.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/subiyakto.wordpress.com/298/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=subiyakto.wordpress.com&amp;blog=1186283&amp;post=298&amp;subd=subiyakto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://subiyakto.wordpress.com/2011/01/19/inland-navigation-in-southeast-kalimantan-a-historical-study-of-water-transportation-in-the-nineteenth-century/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e26739ae688bdb71b98eca9a84ed1c92?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">subiyakto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://subiyakto.files.wordpress.com/2011/01/rivier-te-bandjermasin-circa-1870.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Rivier te Bandjermasin (Circa 1870)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://subiyakto.files.wordpress.com/2011/01/woonbooten-langs-de-soengei-kween-te-bandjermasin-circa-1899.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Woonbooten langs de soengei Kween te Bandjermasin (Circa 1899)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://subiyakto.files.wordpress.com/2011/01/rivier-te-bandjermasin-circa-1870.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Rivier te Bandjermasin (Circa 1870)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://subiyakto.files.wordpress.com/2011/01/woonbooten-langs-de-soengei-kween-te-bandjermasin-circa-1899.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Woonbooten langs de soengei Kween te Bandjermasin (Circa 1899)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Negara dan Rakyat</title>
		<link>http://subiyakto.wordpress.com/2010/10/14/negara-dan-rakyat/</link>
		<comments>http://subiyakto.wordpress.com/2010/10/14/negara-dan-rakyat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Oct 2010 13:52:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambang subiyakto</dc:creator>
				<category><![CDATA[PUISI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://subiyakto.wordpress.com/?p=280</guid>
		<description><![CDATA[Jangalah engkau merasa nyaman dan tentram wahai rakyatku Di tanah gemah ripah loh jinawi, kau dapat terusik Saatnya bisa datang tiba-tiba menjadi pengalaman kolektifmu Sebagian dari kelompok-kelompokmu telah mengalaminya Tidak di tanah hutanmu, di tanah tambangmu, di tanah permukimanmu, di tanah kampus dan sekolahmu Semua, jangan engkau merasa nyaman dan tentram Semua, di manapun kelompok-kelompok [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=subiyakto.wordpress.com&amp;blog=1186283&amp;post=280&amp;subd=subiyakto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jangalah engkau merasa nyaman dan tentram wahai rakyatku</p>
<p>Di tanah gemah ripah loh jinawi, kau dapat terusik</p>
<p>Saatnya bisa datang tiba-tiba menjadi pengalaman kolektifmu</p>
<p>Sebagian dari kelompok-kelompokmu telah mengalaminya<span id="more-280"></span></p>
<p>Tidak di tanah hutanmu, di tanah tambangmu,</p>
<p>di tanah permukimanmu, di tanah kampus dan sekolahmu</p>
<p>Semua, jangan engkau merasa nyaman dan tentram</p>
<p>Semua, di manapun kelompok-kelompok rakyat berada</p>
<p>Sebab, aku penguasamu siap mengusikmu, menerkammu, kapan saja aku mau</p>
<p>‘berikan jasa dan baktimu untuk negara’</p>
<p>‘Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country’</p>
<p>begitu slogan kadaluarsa JFK setengah abad lalu</p>
<p>yang kita anut bersama</p>
<p>Jangan sekali-kali bertanya buat apa negara didirikan</p>
<p>karena bukan untukmu,</p>
<p>melainkan kamu untuk negara bukan yang sebaliknya</p>
<p>Serahkan darah, raga dan jiwamu</p>
<p>Pahamilah, negara didirikan bukan untuk menentramkan dan</p>
<p>mensejahterakan engkau wahai rakyatku</p>
<p>Sebab itu, relalah engkau untuk sengsara dan mati</p>
<p>demi negaramu</p>
<p>Jangan bertanya, sekali lagi jangan bertanya</p>
<p>‘apa yang bisa diberikan negara untukmu’</p>
<p>Sebab, negara bukan untukmu, tapi engkau untuk negaramu</p>
<p>Jangan engkau memprotes mempertanyakan:</p>
<p>‘untuk apa bernegara kalau tak bisa mensejahterakan rakyatnya’</p>
<p>Itu bukan tujuannya,</p>
<p>Tujuannya adalah membangun negara,</p>
<p>Bukan membangun rakyat!  Hmm…., parah!</p>
<p>(bs. 15042010)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/subiyakto.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/subiyakto.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/subiyakto.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/subiyakto.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/subiyakto.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/subiyakto.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/subiyakto.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/subiyakto.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/subiyakto.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/subiyakto.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/subiyakto.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/subiyakto.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/subiyakto.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/subiyakto.wordpress.com/280/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=subiyakto.wordpress.com&amp;blog=1186283&amp;post=280&amp;subd=subiyakto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://subiyakto.wordpress.com/2010/10/14/negara-dan-rakyat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e26739ae688bdb71b98eca9a84ed1c92?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">subiyakto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Negeri yang mulai terkoyak</title>
		<link>http://subiyakto.wordpress.com/2010/09/29/negeri-yang-mulai-terkoyak/</link>
		<comments>http://subiyakto.wordpress.com/2010/09/29/negeri-yang-mulai-terkoyak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Sep 2010 11:05:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambang subiyakto</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://subiyakto.wordpress.com/?p=276</guid>
		<description><![CDATA[terorisme, mega korupsi, tawuran kelompok, perang etnik, penghilangan nyawa oleh polisi dan penjahat yang mungkin sama banyak jumlahnya, salah tangkap, salah menghukum orang, dan banyak lagi yang lainnya yang destruktif dan negatif. kesemua itu terjadi di negeri gemah ripah loh jinawi ini. Apa lagi yang layak kita perbuat? frustasi, putus asa, malu, dan dsb dsb. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=subiyakto.wordpress.com&amp;blog=1186283&amp;post=276&amp;subd=subiyakto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>terorisme, mega korupsi, tawuran kelompok, perang etnik, penghilangan nyawa oleh polisi dan penjahat yang mungkin sama banyak jumlahnya, salah tangkap, salah menghukum orang, dan banyak lagi yang lainnya yang destruktif dan negatif. kesemua itu terjadi di negeri gemah ripah loh jinawi ini. Apa lagi yang layak kita perbuat? frustasi, putus asa, malu, dan dsb dsb. aaakh&#8230; negeri yg mulai terkoyak karena salah mengurus.    </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/subiyakto.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/subiyakto.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/subiyakto.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/subiyakto.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/subiyakto.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/subiyakto.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/subiyakto.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/subiyakto.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/subiyakto.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/subiyakto.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/subiyakto.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/subiyakto.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/subiyakto.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/subiyakto.wordpress.com/276/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=subiyakto.wordpress.com&amp;blog=1186283&amp;post=276&amp;subd=subiyakto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://subiyakto.wordpress.com/2010/09/29/negeri-yang-mulai-terkoyak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e26739ae688bdb71b98eca9a84ed1c92?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">subiyakto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>All science rests upon shifting sand</title>
		<link>http://subiyakto.wordpress.com/2010/06/05/all-science-rests-upon-shifting-sand/</link>
		<comments>http://subiyakto.wordpress.com/2010/06/05/all-science-rests-upon-shifting-sand/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jun 2010 14:43:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambang subiyakto</dc:creator>
				<category><![CDATA[SOCIAL SCIENCES]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://subiyakto.wordpress.com/?p=274</guid>
		<description><![CDATA[“All science rest upon shifting sand” merupakan pernyataan Karl Popper sebagaimana dikutip Anthony Giddens di dalam bukunya berjudul The Conquence of Modernity. Kalimat itu mempunyai makna atau maksud bahwa tidak ada satu kebenaran yang pasti, bahkan pada ilmu-ilmu alam sekalipun yang selama ini mengklaim sebagai ilmu pasti, dan memonopoli serta menyebut diri sains. Yang disebut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=subiyakto.wordpress.com&amp;blog=1186283&amp;post=274&amp;subd=subiyakto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<a href="http://">All science rest upon shifting sand</a>” merupakan pernyataan Karl Popper sebagaimana dikutip Anthony Giddens di dalam bukunya berjudul <em>The Conquence of Modernity</em>. Kalimat itu mempunyai makna atau maksud bahwa tidak ada satu kebenaran yang pasti, bahkan pada ilmu-ilmu alam sekalipun yang selama ini mengklaim sebagai ilmu pasti, dan memonopoli serta menyebut diri sains. Yang disebut ilmu (sains) tidak lain adalah ilmu yang pasti, yang positivistik, selain itu tidak dapat dikatakan sebagai limu (sains). Berbeda dari kebenaran, pasti (kepastian) adalah kebenaran yang tepat, dapat diukur, tidak terpengaruh oleh sesuatu apapun dan tidak terikat oleh ruang dan waktu. Para ilmuwan ataupun filsuf  ketika itu beranggapan inilah yang paling unggul dan meyakini bahwa semestinya ada landasan yang sama sehingga semua ilmu seharusnya dapat diseragamkan, memiliki keseragaman.<span id="more-274"></span></p>
<p>Karl Popper adalah seorang pendukung, bahkan pelopor keseragaman itu. Oleh Giddens dalam bukunya yang lain bersama Jonathan Turner, Social Theory Today, pandangan Popper mengenai itu dinilai telah ‘gagal uji’. Bahkan juga terrefleksikan di dalam pernyataan Popper sendiri “all science rest upon shifting sand” yang kemudian dikutip oleh Giddens di dalam bukunya, The consequence of Modernity. Giddens mengutip pernyataan itu dalam rangka terutama menjelaskan mengenai refleksi modernitas. Modernitas didasari melalui penerapan pengetahuan reflektif, namun persamaan pengetahuan dengan pasti telah menyimpang menjadi disalah-pahami melalui penerapan pengetahuan reflektif. Akan tetapi, pada saat yang sama kita tidak pernah bisa memastikan bahwa setiap unsur yang diberikan pada pengetahuan tidak akan mengalami revisi.</p>
<p>Bahkan, menurut Giddens, filsuf yang paling gigih membela klaim sains untuk kepastian, seperti Karl Popper, mengakui sebagaimana yang dinyatakannya sendiri itu. Dalam ilmu, tidak ada yang pasti, dan tidak dapat dibuktikan, bahkan jika usaha ilmiah memberi kita informasi yang paling bisa diandalkan tentang dunia yang kita dapat pikirkan. Bagi Anthony Giddens, “In the heart of the world of hard science, modernity floats free”. Tidak ada pengetahuan dalam kondisi modernitas adalah pengetahuan dalam arti &#8220;lama&#8221;, yang &#8220;tahu&#8221; ketentuan pasti. Hal ini berlaku sama pada ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial. Dalam ilmu-ilmu sosial, dengan karakter ketidak-menentuan pada semua pengetahuan berbasis empiris kita harus menambahkan “subversi&#8221; yang berasal dari wacana ilmiah kembali masuk ke dalam analisis konteks sosial. Refleksi ilmu-ilmu sosial adalah versi formal (suatu perasaan tertentu ahli pengetahuan) cukup mendasar bagi refleksivitas modernitas secara keseluruhan.</p>
<p>Referensi: Giddens, Anthony. 1996. <a href="http://"><em>The Consequences of Modernity</em></a>. Cambridge: Polity Press</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/subiyakto.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/subiyakto.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/subiyakto.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/subiyakto.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/subiyakto.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/subiyakto.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/subiyakto.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/subiyakto.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/subiyakto.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/subiyakto.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/subiyakto.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/subiyakto.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/subiyakto.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/subiyakto.wordpress.com/274/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=subiyakto.wordpress.com&amp;blog=1186283&amp;post=274&amp;subd=subiyakto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://subiyakto.wordpress.com/2010/06/05/all-science-rests-upon-shifting-sand/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e26739ae688bdb71b98eca9a84ed1c92?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">subiyakto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengenang Chairil Anwar</title>
		<link>http://subiyakto.wordpress.com/2010/05/08/mengenang-chairil-anwar/</link>
		<comments>http://subiyakto.wordpress.com/2010/05/08/mengenang-chairil-anwar/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 May 2010 05:16:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambang subiyakto</dc:creator>
				<category><![CDATA[PUISI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://subiyakto.wordpress.com/?p=270</guid>
		<description><![CDATA[Bambang Subiyakto Bukan Ersis orangnya jika tidak selalu menggeliat dan berproduksi. Presiden LPKPK ini sekarang berkolaborasi dengan Program Pascasarjana Jurusan Bahasa Unlam pimpinan  doktor Jumadi. Kolaborasi dibangun dengan support berbagai pihak ditujukan untuk  mengenang tokoh sastra terkemuka Indonesia, Chairil Anwar. Moment yang diambil bertepatan dengan hari wafat tokoh itu 28 April 1949. Hasil kolaborasi adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=subiyakto.wordpress.com&amp;blog=1186283&amp;post=270&amp;subd=subiyakto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bambang Subiyakto</p>
<p>Bukan Ersis orangnya jika tidak selalu menggeliat dan berproduksi. Presiden LPKPK ini sekarang berkolaborasi dengan Program Pascasarjana Jurusan Bahasa Unlam pimpinan  doktor Jumadi. Kolaborasi dibangun dengan support berbagai pihak ditujukan untuk  mengenang tokoh sastra terkemuka Indonesia, Chairil Anwar. Moment yang diambil bertepatan dengan hari wafat tokoh itu 28 April 1949. Hasil kolaborasi adalah terwujudnya sebuah buku sastra yang mereka beri judul <em>Antologi Puisi Tajuk Bunga</em>. Buku ini memuat ratusan puisi karya 15 akademisi Unlam dari berbagai disiplin. <span id="more-270"></span>Selain itu, di laksanakan pula lomba menulis puisi kalangan mahasiswa. Puncak kolaborasi adalah menyelenggarakan Malam Sastra pada 29 April 2006 di Aula Satu Gedung Rektorat Unlam.</p>
<p>Homo Poeta</p>
<p>Baca puisi marupakan salah satu mata acara pada Malam Sastra itu. Puisi-puisi   dibaca oleh penulisnya sendiri bersumber dari buku Antologi Puisi Tajuk Bunga.  Pada acara itu baca puisi dilakukan oleh beberapa dosen dan petinggi Unlam. Selebihnya baca puisi mahasiswa yang berhasil menjadi pemenang, juga oleh mahasiswa itu sendiri. Mata acara lainnya adalah menampilkan satu babak drama dari Komunitas Ilalang. Singkatnya, acara Malam Sastra itu merupakan wujud kegiatan dari <em>homo poeta</em>.</p>
<p>Manusia pada dasarnya adalah makhluk pembuat puisi. Ada yang memulainya sejak di sekolah dasar, ada pula yang memulainya  ketika di SMP, SMA, PT atau bahkan ketika telah menjadi seorang ayah, ibu atau pemimpin. Untuk apa? Minimal puisi ditulis untuk diri sendiri sebagai wujud menuangkan letupan perasaan dan imajinasi. Pada titik ini membuat puisi bisa menjadi salah satu terapi <em>stress</em> seseorang. Menyalurkan letupan perasaan dan imajinasi ke dalam puisi membuat seseorang lega sesudahnya. Atau juga, hanya sekedar menyalurkan hobi. Selebihnya barangkali memang sebagai upaya mengembangkan talenta menjadi penyair atau sastrawan.</p>
<p><em>Homo poeta</em> terefleksikan pula dari banyaknya puisi yang masuk untuk diperlombakan dari kalangan mahasiswa. Puisi yang masuk berasal dari mahasiswa-mahasiswa beragam latar belakang disiplin. Begitupun dengan para penulis puisi di dalam buku Antologi Puisi Tajuk Bunga. Selain Ersis dan Jumadi, tokoh yang tak asing lagi bagi pembaca Radar Banjarmasin, para penulisnya dari kalangan petinggi Unlam ada pak rektor, Rasmadi, lalu Achmad Sofyan (PR III), Rustam Effendi (dekan FKIP), Jarkasi (Sekjur PSP Bahasa dan Seni FKIP), Daud Pamungkas (Pemred Jurnal Vidya Karya FKIP), tentu Jumadi sendiri yang Ketua Program Pascasarjana Jurusan Bahasa Unlam. Selebihnya adalah para dosen berkualifikasi master pada disiplinnya masing-masing.</p>
<p>Ternyatalah bahwa puisi milik setiap insan manusia apapun profesi dan kedudukannya. Akan tetapi untuk dapat dikatakan penyair, nanti dulu! Pasti akan banyak nanti yang protes, marah. Yang diperlukan adalah perasaan dan imajinasi kemudian menuangkan keduanya itu ke dalam baris-baris tulisan. Jadi, membuat puisi itu gampang! Ada perasaan, ada imajinasi serta bisa membaca dan menulis, beres sudah.  Entah kalau penyair, barangkali tidak cukup hanya dengan sekedar persyaratan-persyaratan tadi.</p>
<p>Si Eksentrik Chairil Anwar</p>
<p>Anak Medan berdarah Minang bernama Chairil Anwar ini memang manusia alias sastrawan eksentrik. Lahir di Medan pada 26 Juli 1922 dan wafat di Jakarta pada 28 April 1949.  Usianya tidak panjang, hanya 27 tahun tetapi punya nama besar adalah hal luar biasa. Sekalipun ia berasal dari keluarga terpandang karena status ayah dan ibunya namun hidupnya jauh dari teratur. Kemanjaan yang diberikan kedua orang tuanya barangkali ditafsirkan keliru sehingga ia tumbuh menjadi sosok yang ‘bengal’ dengan jiwa yang bebas lepas.</p>
<p>Pendidikan hanya dia ikuti hingga duduk di kelas dua pada <em>Meer Uitgebreid Lager Onderwijs</em> (MULO), setingkat SMP sekarang. Ia merasa tidak nyaman dan memilih keluar dari sekolahnya. Di usia belia itu ia merantau ke Batavia (Jakarta). Di sini kembali ia mencoba meneruskan sekolahnya di MULO, tetapi hanya berlangsung sebentar. Tidak mau terikat segala macam peraturan dan memilih kehidupan bebas, ia memilih tidak lagi melanjutkan pendidikan. Meskipun begitu ia telah menguasai bahasa Belanda cukup baik. Dengan modal ini Chairil Anwar melahap segala macam buku. Di antaranya buku-buku sejarah, ekonomi, sastra dan politik.</p>
<p>Chairil Anwar, “Si binatang jalang” yang “ingin hidup seribu tahun” ini, ternyata hanya berusia pendek. Sikap ‘jalang’ dengan hidup tidak teratur jelas telah menggerogoti kesehatannya sehingga usianya dicukupkan oleh sang Khaliq pada 27 tahun saja. Akan tetapi, bisa jadi semangatnyalah akan dapat hidup selama seribu tahun. Sekarang telah setengah abad lebih tujuh tahun jarak dari kematiannya dengan kita. Semangat jiwa dan pemikirannya masih relevan dan mungkin akan terus membakar semangat generasi-generasi berikutnya. Sampai 943 tahun lagi untuk genap seribu tahun.</p>
<p>Gelar  si “binatang jalang” yang “ingin hidup seribu tahun” ini berasal dari goresan penanya sendiri dalam bentuk puisi berjudul “AKU”. Meskipun demikian, ia mendapat kehormatan pula sebagai tokoh pembaharu dalam kesusastraan Indonesia dan disebut sebagai pelopor Angkatan ‘45. Sikap bebas tidak saja ia ditunjukan di dalam menjalani hidupnya. Goresan-goresan penanya menunjukan harapannya kepada generasi baru untuk bersikap tegar, mandiri, berani, dan kreatif melakukan perubahan-perubahan besar. Revolusioner, demikian sikap jiwanya. Hal ini dapat kita simak dari goresan penanya menjelang akhir hidupnya. Ketika itu Chairil Anwar menulis dengan kata-kata: “Angkatan ’45 harus berdiri sendiri, menjalankan dengan tabah dan berani ‘nasibnya sendiri’, menjadi pernyataan revolusi” .</p>
<p>Sebelumnya, pada tahun 1948  ia menuliskan hal yang cukup mengejutkan, yakni (dalam ejaan aslinya)</p>
<p>“Persetudjuan dengan Bung Karno”.</p>
<p>Ajo.! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin djandji</p>
<p>Aku sudah tjukup lama dengar bitjaramu, dipanggang atas apimu</p>
<p>digarami oleh lautmu</p>
<p>Dari mula tgl 17 Agustus 1945</p>
<p>Aku melangkah kedepan berada rapat disisimu</p>
<p>Aku sekarang api aku sekarang laut</p>
<p>Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat</p>
<p>Dizatmu dizatku kapal2 kita berlajar</p>
<p>Diuratmu diuratku kapal2 kita bertolak dan berlabuh</p>
<p>Begitulah Chairil Anwar tokoh yang kita kenang sampai hari ini dan boleh saja semangatnya akan terus hidup sampai melampaui batas 1000 tahun. Tumbulah generasi-generasi kreatif pembaharu. Negeri ini membutuhkan orang-orang penuh semangat berjuang tanpa pernah putus semangat. Tumbuhlah generasi-generasi bersemangat Chairil Anwar. Sekian. (Dosen FKIP Unlam, email: phetex73@yahoo.com)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/subiyakto.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/subiyakto.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/subiyakto.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/subiyakto.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/subiyakto.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/subiyakto.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/subiyakto.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/subiyakto.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/subiyakto.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/subiyakto.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/subiyakto.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/subiyakto.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/subiyakto.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/subiyakto.wordpress.com/270/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=subiyakto.wordpress.com&amp;blog=1186283&amp;post=270&amp;subd=subiyakto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://subiyakto.wordpress.com/2010/05/08/mengenang-chairil-anwar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e26739ae688bdb71b98eca9a84ed1c92?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">subiyakto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>INTEGRASI BANGSA</title>
		<link>http://subiyakto.wordpress.com/2010/05/05/integrasi-bangsa/</link>
		<comments>http://subiyakto.wordpress.com/2010/05/05/integrasi-bangsa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 May 2010 13:55:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambang subiyakto</dc:creator>
				<category><![CDATA[SOCIAL SCIENCES]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://subiyakto.wordpress.com/?p=261</guid>
		<description><![CDATA[bambang subiyakto Mempersatukan kelompok-kelompok etnik ke dalam kesatuan Negara Bangsa  Afrika Selatan Kalau bukan karena pengembangan bentuk prasangka kuat rasial (yang berbeda dari etnis), Afrika Selatan bisa berkembang menjadi jenis yang sama sebagai masyarakat yang harmonis. Ras campuran dan budaya Barat, seperti yang ditemukan di Amerika Latin. Memang, dari sudut pandang budaya, Cape Coloureds lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=subiyakto.wordpress.com&amp;blog=1186283&amp;post=261&amp;subd=subiyakto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://">bambang subiyakto</a></p>
<p><strong>Mempersatukan kelompok-kelompok etnik ke dalam kesatuan Negara Bangsa  Afrika Selatan</strong></p>
<p>Kalau bukan karena pengembangan bentuk prasangka kuat rasial (yang berbeda dari etnis), <a href="http://">Afrika Selatan</a> bisa berkembang menjadi jenis yang sama sebagai masyarakat yang harmonis. Ras campuran dan budaya Barat, seperti yang ditemukan di Amerika Latin. Memang, dari sudut pandang budaya, Cape  Coloureds lebih bernuansa kebudayaan Afrikaner (orang Afrika). Sumbangan mereka pada Herrenvolk mencakup tiga karakteristik identifikasi utama, yaitu: Bahasa Afrika. <span id="more-261"></span>Mereka hanya memenuhi sebagian kriteria kedua, yaitu keanggotaan dalam salah satu dari tiga Gereja Reformasi Belanda; di bawah 30 persen dari bagian Coloureds agama Afrikaner, namuni anggota yang memiliki DRC lebih beragam daripada setiap denominasi lain. Yang jelas paling utama adalah tidak mengemukakan alasan, mengapa Afrikanerdom menolak Coloured adalah karena kegagalan yang terakhir untuk memenuhi semua criteria penting status superior di Afrika Selatan, yaitu kulit &#8220;putih&#8221;.</p>
<p>Singkatnya, beberapa budaya yang berasal dari tiga benua yang berbeda bertemu di Afrika Selatan. Hasil dari proses yang sangat kompleks dalam kontak budaya barat &#8220;secara bertahap dari semua kelompok non-Eropa. Tentu saja belum sepenuhnya mempengaruhi satu sistem. Afrika Selatan varian kebudayaan Eropa menerima sebagian jejak pengaruh India dan Afrika dalam bahasa, dalam memasak, dan nilai-nilai tradisional Eropa telah sangat diubah oleh orang kulit Putih dalam menanggapi posisi istimewa mereka. Ragam prasangka dan diskriminasi cukup menghalangi Westernisasi, dan munculnya gerakan-gerakan <em>counteracculturative</em> seperti gereja-gereja Afrika separatis bersifat &#8220;Zionis&#8221;, gerakan kenabian dari Xhosas tahun 1857, dan Pemberontakan Zulu Poll tahun 1906. Meskipun telah terjadi akulturasi berbeda, dan pada tingkat yang bervariasi tergantung pada waktu, wilayah, dan kelompok-kelompok tertentu, namun kecenderungan secara keseluruhan di Afrika Selatan adalah menuju kepada masyarakat yang didominasi Barat, dan penyerapan budaya bertahap dari sisa kantong tradisional Afrika.</p>
<p>Semua faktor ini meskipun, segmen besar penduduk <a href="http://">perdesaan</a> tetap terintegrasi, melalui ikatan kekerabatan dan politik lokal, dengan cara hidup yang tradisional. Hal ini terutama berlaku di Transkei dan Zululand, sisa dua kantong utama konservatisme budaya di Afrika Selatan. Orang-orang ini, diketahui antara Putih sebagai &#8220;Pribumi Asli&#8221; (<em>raw natives</em>) dan &#8220;selimut-merah kafir&#8221; (<em>red-blanket Kaffirs</em>), secara berkala menerima ekonomi Barat dalam rangka menyediakan sarana minimum subsistensi pada keluarga miskin mereka di Cadangan, tapi tetap sangat kukuh pada tradisi dan menolak Kekristenan, pendidikan Barat, dan “White man&#8217;s ways”. Bahkan, di daerah-daerah perdesaan konservatif, bagaimanpun segmen penduduk yang dikenal sebagai sekolah rakyat yang telah menerima pengaruh misionaris dan sedang dalam proses akulturasi.</p>
<p>Masyarakat tradisional Bantu selatan merupakan <em>unstratified</em> dalam bagi Barat. Meskipun ada, tentu saja, jarak perbedaan status antara rakyat jelata dan kepala, serta antara berbagai klan. Kepemilikan ternak, poligami, dan banyak <em>descendance</em> adalah simbol status penting dalam masyarakat perdesaan tradisional. Afrika tradisional pinggiran yang tidak menerima sistem kelas samasekal tidak turut berpartisipasi. Pada saat yang sama mereka membentuk suatu lapisan di bawah masyarakat Afrika, sejauh status antara orang-orang perkotaan ‘western’ merupakan fungsi tahap akulturasi pada gaya hidup Eropa. Orang Afrika asli perkotaan dilihat oleh para terdidik sebagai terbelakang, primitif, dan orang-orang kafir bodoh, atau, setidaknya, sebagai naif dan tidak canggih <em>countryfolk</em>.</p>
<p>Akan tetapi, beberapa teoetisi &#8220;struktur-fungsi&#8221; (<em>structure-function</em>), terutama Talcott Parsons, dengan dalil nilai konsensus sebagai kondisi yang perlu untuk adanya suatu masyarakat. Kecuali sebagian besar anggota dari masyarakat luas menyetujui dan menginternalisasi seperangkat nilai-nilai, yang paling penting dan kurang dalam hal kondisi integrasi sosial, menurut analis para fungsionalis.</p>
<p>Sementara itu, mari kita terima sementara, dalam bentuk minimal, fungsionalis dalil-dalil bahwa sejumlah integrasi sangat penting untuk keberadaan masyarakat, dan bahwa konsensus nilai merupakan sumber penting dari integrasi di kebanyakan sistem sosial. Kita bahkan bisa melangkah lebih jauh dan menerima bahwa tidak ada konsensus sekaligus gejala dan penyebab malintegration. Namun, dalil bahwa konsensus nilai merupakan prasyarat fungsional masyarakat apapun terang-terangan bertentangan dengan adanya berbagai budaya masyarakat pluralistik dimana beberapa nilai kelompok yang berbeda secara radikal. Satu bisa, tentu saja, meregangkan konsep konsensus untuk titik berartinya, atau menyangkal bahwa sistem sosial tersebut merupakan masyarakat, tetapi salah satu dari cara-cara menghindari kesulitan yang tidak memuaskan. Masyarakat dapat diintegrasikan pada basis selain nilai konsensus, misalnya, melalui paksaan saling ketergantungan ekonomi dan politik, sebagaimana yang terjadi di Afrika Selatan.</p>
<p>Dua konsekuensi penting mengikuti dari ideologi rasisme Putih. <em>Pertama</em>, rasisme adalah salah satu faktor utama yang menyebabkan kurangnya nilai konsensus di Afrika Selatan. Tidak ada cara yang berarti seseorang bisa mengatakan bahwa sebagian besar sumbangan system kepercayaan umum Afrika Selatan tentang apa yang mereka inginkan. Kita telah menunjukkan bahwa Afrika Selatan membatalkan dalam hal ini kemajuan hukum nilai konsensus dari beberapa fungsionalis, terutama oleh Talcott Parsons. Konsensus tentang nilai-nilai dasar ini tidak diragukan lagi merupakan sumber penting dari integrasi sosial; ketiadaan dapat menghasilkan strain yang serius, tetapi ini bukan merupakan prasyarat untuk adanya suatu masyarakat, dan landasan lainnya integrasi masyarakat dapat terus bersama.</p>
<p><em>Kedua</em>, ideologi rasis, sejauh itu diterapkan dalam praktik, merupakan aspek utama dari apa yang dapat disebut pluralisme (sebagai lawan dari budaya) sosial Afrika Selatan. Masyarakat terkotak menjadi empat kasta ras utama dengan quadruplicated set struktur kelembagaan. Tidak hanya empat colourcastes menunjukkan rendahnya integrasi dan saling melengkapi, dan memiliki hubungan yang sangat segmentaris dengan satu sama lain, tetapi hubungan ini didasarkan sebagian besar pada konflik. Faktor-faktor lain, terutama divisi linguistik dan kelas sosial, juga berkontribusi terhadap pluralisme sosial, tetapi di mana-mana dan kekakuan peningkatan hambatan rasial membuang faktor-faktor lainnya untuk posisi sekunder. Tersebut adalah kasus perpecahan di kalangan Afrikaner-Inggris Eropa, yang, meskipun masih penting, yang dibayangi oleh konflik rasial.</p>
<p>Kami telah berurusan dengan ketidakcukupan dalil konsensus nilai diajukan oleh aliran utama dari fungsionalisme dari Comte untuk Parsons melalui Durkheim. Apa saja, kemudian, beberapa alternatif basis integrasi sosial? Paksaan, yang memainkan peran yang semakin dominan di Afrika Selatan, jelas alternatif, meskipun yang terkenal tidak stabil, menyebabkan lingkaran setan abadi tirani. Namun, untuk mengurangi masalah integrasi ke dikotomi persetujuan-paksaan, atau untuk berbagai campuran kedua elemen, masih jauh dari memadai. Lebih penting daripada paksaan sebagai alternatif untuk konsensus saling ketergantungan ekonomi, atau apa Durkheim disebut &#8220;solidaritas organik&#8221;, yang pergi bersama-sama dengan pembagian kompleks kerja. Jelas, partisipasi kelompok-kelompok etnis yang berbeda dalam sistem umum produksi adalah integratif faktor penting di semua negara Afrika, dan merupakan salah satu faktor utama yang telah diadakan seperti masyarakat yang dilanda konflik seperti Afrika Selatan bersama begitu lama. Ketergantungan mengucapkan (pada kelaparan atau mendekati tingkat kelaparan) dari massa Afrika terhadap perekonomian &#8221; Putih &#8221; di Afrika Selatan telah menjadi salah satu faktor penghambat utama untuk aksi protes massa seperti pemogokan umum.</p>
<p>Gerakan politik yang menyebabkan kemerdekaan di sebagian besar wilayah bekas kolonial di Afrika umumnya ditandai dengan nasionalisme. Penggunaan istilah ini telah menjadi objek perdebatan. Adapun tujuannya, gerakan ini memiliki banyak kesamaan dengan nasionalisme Eropa abad ke-19, yaitu memperoleh kemerdekaan dan hak untuk menjalani hidup tersendiri. Akan tetapi, dalam hal isinya, menanpilkan minimal satu perbedaan penting. Nasionalisme Afrika (negara berkembang) tidak keluar dari sudah merupakan negara menuntut untuk diakui sebagai tersebut dan untuk membentuk aparatur negara, mereka ada sebelum bangsa sendiri. Istilah ini karena satu sisi. Seorang penulis yang telah terkait erat dengan pengalaman negara-negara Afrika baru merdeka menyatakan cukup baik cara di mana para pemimpin politik Afrika menggunakan kata-kata &#8220;nasionalisme&#8221; ketika dia berkata: &#8220;Nasionalisme mendahului pembentukan bangsa, dan ini adalah pengertian yang gerakan kemerdekaan nasional sepenuhnya, meskipun isi dari negara Afrika atau negara itu belum tampak sempurna didefinisikan Rezim kolonial benar-benar menentang setiap proses pembangunan bangsa;. proses ini hanya dapat hasil dari sebelum penghancuran rezim kolonial. Akan tetapi, kita harus mencatat bahwa, sering kali dalam nasionalisme Afrika saat ini (dan, lebih umum, di semua negara berkembang), pencarian bagi kemerdekaan vis-à-vis dunia luar yang sempit terkait dengan keinginan melakukan revolusi internal.</p>
<p>Menggunakan istilah &#8220;Sosiologi Afrika&#8221; dari Georges Balandier yang khas itu, Berghe tidak bermaksud pengajukan label khusus untuk kajian sosiologis. Sebaliknya, seperti Balandier, Gluckman, Mitchell, Kuper, Godfrey dan Monica Wilson, dan lain-lain, ia menyarankan agar masyarakat Afrika, melalui pluralisme mereka dan tingkat perubahan yang cepat, menjadi kajian structural dan fungsional yang penuh tantangan bagi antropologi dan sosiologi dengan menerapkan pendekatan yang lebih memadai. Di sini Berghe memang mencoba menunjukan beberapa keterbatasan dari fungsionalisme dalam usaha mencapai sintesis yang memuaskan sehingga dilakukan penggabungan antara unsur-unsur fungsionalisme dan dialektika Hegel-Marxis. Etnisitas adalah suatu penggolongan dasar dari suatu organisasi social yang keanggotaannya didasarkan pada kesamaan asal, sejarah dan yang dapat meliputi kesamaan budaya, agama atau bahasa.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/subiyakto.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/subiyakto.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/subiyakto.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/subiyakto.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/subiyakto.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/subiyakto.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/subiyakto.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/subiyakto.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/subiyakto.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/subiyakto.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/subiyakto.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/subiyakto.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/subiyakto.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/subiyakto.wordpress.com/261/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=subiyakto.wordpress.com&amp;blog=1186283&amp;post=261&amp;subd=subiyakto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://subiyakto.wordpress.com/2010/05/05/integrasi-bangsa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e26739ae688bdb71b98eca9a84ed1c92?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">subiyakto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>NASIONALISME POSMODERNISME</title>
		<link>http://subiyakto.wordpress.com/2010/05/05/nasionalisme-posmodernisme/</link>
		<comments>http://subiyakto.wordpress.com/2010/05/05/nasionalisme-posmodernisme/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 May 2010 12:05:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambang subiyakto</dc:creator>
				<category><![CDATA[SOCIAL SCIENCES]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://subiyakto.wordpress.com/?p=255</guid>
		<description><![CDATA[bambang subiyakto Nasionalisme dari Pandangan Postmodernism Dalam pandangan posmodernisme symbol-simbol seperti lagu kebangsaan, bendera, bahkan bahasa serta lambang-lambang kenegaraan lainnya hanyalah merupakan mitos dan legenda belaka bagi nasionalisme dan tegaknya negara-bangsa. Bila masih bersandar pada hal-hal yang demikian dianggap hanya menjadi beban karena cukup besar biaya yang dikeluarkan untuk itu. Bagi Kenichi Ohmae (2005) misalnya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=subiyakto.wordpress.com&amp;blog=1186283&amp;post=255&amp;subd=subiyakto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://">bambang subiyakto</a></p>
<p><strong>Nasionalisme dari Pandangan Postmodernism</strong></p>
<p>Dalam <a href="http://">pandangan posmodernisme</a> symbol-simbol seperti lagu kebangsaan, bendera, bahkan bahasa serta lambang-lambang kenegaraan lainnya hanyalah merupakan mitos dan legenda belaka bagi nasionalisme dan tegaknya negara-bangsa. <span id="more-255"></span>Bila masih bersandar pada hal-hal yang demikian dianggap hanya menjadi beban karena cukup besar biaya yang dikeluarkan untuk itu. Bagi Kenichi Ohmae (2005) misalnya, penulis buku <em>The Next Global Stage: Tantangan dan Peluang di Dunia Yang Tidak Mengenal Batas Kewilayahan</em> dan berpandangan posmodernisme, kegiatan ekonomilah yang penting, sebab di samping lebih rasional juga lebih menguntungkan bagi pembinaan sebuah negara-bangsa (termasuk nasionalisme). Dia menasehati dan mengingatkan bahwa citra abad ke-21 ini mencakup 4-I, yaitu: industri, investment, individual, dan informasi. Menurutnya hal ini sebaiknya dijadikan kebijaksanaan bagi negara.</p>
<p>Selain itu, agar sebuah bangsa, negara maupun nasionalisme dapat terjaga dan berkelanjutan penting juga menciptakan “The Emergence of Region States”, suatu kawasan (daerah/negara) berikat atau “Negara-wilayah”. Negara-wilayah yang dimaksudkan Ohmae di sini bukanlah unit politik melainkan unit ekonomi. Contohnya “Sijori” (Singapura, Johor, Riau) atau MEE (Masyarakat Ekonomi Eropa) dan yang jenis lainnya. Yang penting juga menurut Ohmae adalah hadirnya Multinational Coorporation karena dapat berperan dan lebih dapat memberikan keuntungan yang tidak langsung kepada negara-negara nasional baru. Menurutnya lagi, bahwa untuk sebuah nasionalisme memang perlu biaya (<em>cost</em>) dan menjalankan proteksionisme merupakan suatu dalih belaka bagi kepentingan penguasa atau kekuasaan.</p>
<p>Sementara itu, dalam pandangan dan sudut tinjauan yang berbeda, Thomas H. Eriksen (1993), penulis buku <em>Ethnicity &amp; Nationalism: Anthropological Perspectives</em>,  mengemukakan untuk nasionalisme, teruama prinsip politik, maka politik dan unit nasional harus kongruen. Nasionalisme sebagai sentimen, atau sebagai gerakan, paling dapat didefinisikan dalam istilah prinsip ini. Sentimen nasionalis adalah rasa marah terangsang oleh pelanggaran prinsip, atau perasaan kepuasan terangsang oleh pemenuhan. Menurut Gellner (1983), suatu gerakan nasionalis adalah salah satu ditekan oleh sentimen semacam ini. Nasionalisme adalah ideologi yang berpendapat bahwa etnis (kelompok) mereka harus mendominasi negara. Oleh karena itu, suatu negara bangsa adalah sebuah negara didominasi oleh kelompok etnis, dengan penanda identitas (bahasa atau agama) yang sering tertanam dalam simbolisme resmi dan undang-undang. Nasionalisme dalam masyarakat polyethnic, dapat digambarkan sebagai konflik antara kelompok-kelompok etnis didominasi melawan kekuatan mendominasi dalam kerangka sebuah negara bangsa modern.</p>
<p>Para pakar politik sering mendapati suatu bentuk penjelasan yang menarik dalam nasionlaisme karena di dalamnya menjanjikan penjelasan mengenai sebab-sebab konflik yang tersembunyi di antara berbagai kelompok etnik. Di dalam hal ini, nasionalisme bukan keyakinan melainkan keuatan yang bisa menggerakan sekumpulan orang melakukan perbuatan sekaligus menganut suatu keyakinan. Nasionalisme sebaiknya dianggap sebagai seperangkat gagasan dan sentiment yang secara lentur merespons, dasawarsa demi dasawarsa, situasi-situasi baru –biasanya situasi-situasi sulit—yang memungkinkan  rakyat menemukan jati dirinya.</p>
<p>Di lain pihak, Tom Nairn (1977) mengemukakan pandangan yang meragukan wacana tentang nasionalisme, yang dianggapnya menampilkan keraguan diri. Nairn menyatakan bahwa kode genetik dari semua nasionalisme menunjukkan tanda-tanda yang bertentangan dengan apa yang ia sebut “kesehatan” dan “ketidaknormalan”: dalam bentuk-bentuk prasangka, sentimen, egoisme kolektif, agresi, dan sebagainya. Yang telah menodai hal tersebut. Contohnya, katanya, ”(nasionallisme) mendorong mereka kepada tujuan singkat jangka pendek, seperti industrialisasi, kemakmuran, persamaan derajat dengan orang lain, dan lainnya. Dengan di lain pihak regresi jangka pendek, yakni melihat diri lebih dalam kepada sumber-sumber yang asli dengan menghidupkan kembali pahlawan-pahlawan rakyat masa lampau dan mitos-mitos tentang mereka sendiri.</p>
<p>Dalam konteks Indonesia, kita telah menyaksikan kecerobohan penguasa Orde Baru dalam mengelola masalah etnisitas yang harus dibayar mahal dengan merebaknya konflik antar-etnis pada akhir tahun 1990-an dan awal 2000-an. Konflik etnis di Ambon, Sampit, Sambas, dan tragedi 1998 yang memakan banyak korban jiwa dari kalangan etnis Tionghoa adalah contoh nyata betapa keragaman etnis di Indonesia belum bisa menjadi berkah sosial<em> (social capital)</em> melainkan masih menjadi sumber konflik sosial yang bersifat laten. (bs-Bandung 2010)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/subiyakto.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/subiyakto.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/subiyakto.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/subiyakto.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/subiyakto.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/subiyakto.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/subiyakto.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/subiyakto.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/subiyakto.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/subiyakto.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/subiyakto.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/subiyakto.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/subiyakto.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/subiyakto.wordpress.com/255/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=subiyakto.wordpress.com&amp;blog=1186283&amp;post=255&amp;subd=subiyakto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://subiyakto.wordpress.com/2010/05/05/nasionalisme-posmodernisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e26739ae688bdb71b98eca9a84ed1c92?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">subiyakto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sosiologis Fungsional Etnik Talcot Parson</title>
		<link>http://subiyakto.wordpress.com/2010/05/05/sosiologis-fungsional-etnik-talcot-parson/</link>
		<comments>http://subiyakto.wordpress.com/2010/05/05/sosiologis-fungsional-etnik-talcot-parson/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 May 2010 11:57:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambang subiyakto</dc:creator>
				<category><![CDATA[SOCIAL SCIENCES]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://subiyakto.wordpress.com/?p=253</guid>
		<description><![CDATA[bambang subiyakto Untuk individu yang khas (baik tempat tinggalnya dalam wilayah dan berbagi budaya telah dianggap sebagai diberikan oleh kelahiran, karena telah memperoleh identitas etnis dari orang tuanya. Etnisitas telah ditafsirkan sebagai memiliki basis biologis, kadang-kadang secara eksplisit dinyatakan dalam hal kekhususan rasial. Seorang etnosentris mungkin juga mengadopsi budaya baru, budaya menyangkal kelahirannya, mengingat bahwa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=subiyakto.wordpress.com&amp;blog=1186283&amp;post=253&amp;subd=subiyakto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://">bambang subiyakto</a></p>
<p>Untuk individu yang khas (baik tempat tinggalnya dalam wilayah dan berbagi budaya telah dianggap sebagai diberikan oleh kelahiran, karena telah memperoleh identitas etnis dari orang tuanya. Etnisitas telah ditafsirkan sebagai memiliki basis biologis, kadang-kadang secara eksplisit dinyatakan dalam hal kekhususan rasial. Seorang etnosentris mungkin juga mengadopsi budaya baru, budaya menyangkal kelahirannya, mengingat bahwa budaya diadopsi bagaimanapun unggul dengan budaya kelahiran. <span id="more-253"></span>Sepanjang sejarah, faksi-faksi yang berperang telah terdiri dari kelompok etnis cukup homogen. Perselisihan etnis terlihat mendominasi pemandangan di banyak bagian dunia bahkan sampai hari ini. Psikologi evolusioner berpendapat bahwa alasan untuk pengelompokan ini berasal dari keselarasan kepentingan di antara anggota kelompok-kelompok karena kesamaan genetik mereka. Pada lapisan ini, van den Berghe (1981) melihat etnosentrisme sebagai hasil alami dari nepotisme.</p>
<p>Di dalam etnik dan etnisitas terkandung dua unsur, yaitu primordialis dan instrumentalis, yang bersifat fungsional. Argumentasi  yang terpokok dari pandangan sosiologis fungsional bahwa <a href="http://">realitas sosial</a> dapat dikaji menggunakan metode empiris seperti yang terjadi untuk realitas fisik atau alam. Ini berarti bahwa kehidupan manusia berada pada sebuah struktur yang terdiri atas tiga system, yakni system social, system budaya, dan system kepribadian.  Di dalam hal etnik dan etnisitas primordialis dan instrumetalis terutama sangat melekat dengan system kepribadian. Di dalam <a href="http://">primordialis</a> terlihata peserta memandang hubungan etnis secara kolektif, sebagai eksternal yang diberikan, bahkan koersif, social obligasi. Adapun instrumentalis menunjukan memperlakukan etnis terutama sebagai elemen ad hoc-strategi politik, digunakan sebagai sumber daya untuk kelompok-kelompok kepentingan guna mencapai  tujuan sekunder seperti untuk peningkatan kekayaan, kekuasaan ataupun status.</p>
<p>Pada sisi lain, dalam pandangan konstruktivitis melihat identitas etnik sebagai produk kekuatan sejarah, sering bahkan identitas ditampilkan.sementara itu dalam pandangan esensialis identitas ontologism mendefinisikan katagori actor social, dan bukan hasil dari aksi social sebagai bentuk sosiologis fungsional. Sebagaimana diketahui bahwa sistem sosial tergantung pada ketentuan minimum &#8220;dukungan&#8221; dari setiap sistem lainnya. Dengan demikian proporsi yang cukup memadai aktor komponen termotivasi untuk bertindak sesuai dengan persyaratan sistem perannya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/subiyakto.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/subiyakto.wordpress.com/253/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/subiyakto.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/subiyakto.wordpress.com/253/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/subiyakto.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/subiyakto.wordpress.com/253/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/subiyakto.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/subiyakto.wordpress.com/253/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/subiyakto.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/subiyakto.wordpress.com/253/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/subiyakto.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/subiyakto.wordpress.com/253/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/subiyakto.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/subiyakto.wordpress.com/253/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=subiyakto.wordpress.com&amp;blog=1186283&amp;post=253&amp;subd=subiyakto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://subiyakto.wordpress.com/2010/05/05/sosiologis-fungsional-etnik-talcot-parson/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e26739ae688bdb71b98eca9a84ed1c92?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">subiyakto</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
