Buku DR. Dr. Siti Fadilah Supari, Sp.Jp.(K) ‘Saatnya Dunia Berubah, Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung’, Jakarta: PT. Sulaksana Watinsa Indonesia (SWI), xii dan 204, 2008.
Kurang lebih pukul 19.30 tadi malam (11/04/08), pak Eko memberikan buku berjudul Saatnya Dunia Berubah, Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung, buah karya Menteri Kesehatan RI, DR. Dr. Siti Fadilah Supari, Sp.Jp.(K). Ketika itu saya baru kurang lebih satu jam tiba di rumah sepulang dari perjalanan satu minggu bersama mahasiswa FKIP Unlam melakukan ‘Studi Banding dan Latihan Penelitian’ di Jogjakarta dan Jatim (pada suku Tengger di kawasan Gunung Bromo). Di sini, saya tidak ingin mengatakan seribu maaf, melainkan sejuta maaf bila cara saya oleh keadaan itu kemudian dalam membahas buku karya salah seorang pemimpin nasional ini kurang berkenan atau sangat mengecewakan hadirin.
Rasanya jarang sekali orang tidak mengenal menteri wanita yang satu ini, karena jabatannya sebagai menteri kesehatan menangani bidang yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat Indonesia. Akan tetapi, ini pun tidak akan terjadi jika menterinya hanya ongkang-ongkang kaki di kursi putar dan bergoyang di Jakarta sana. Menteri yang satu ini berani kotor tangan, berani marah, berani mengaplikasikan pemikiran dan keyakinannya, tidak sekedar di tingkat nasional melainkan juga internasional. Hebatnya lagi, dia membukukan apa yang difikirkan, dikerjakan dan yang telah menjadi pengalamannya. Hari ini, itu ada dihadapan kita, di tangan kita, kita baca, dan diperbincangkan bersama.
Buku dimaksud teridiri lima bagian
1. Luka di Hati Menyulut Nurani
2. Dari Jakarta Ke Jenewa
3. Inter-Governmental Meeting: Saatnya Bersuara!
4. Perjuangan Belum Selesai
5. Berpikir Merdeka Merubah Paradigma
Historia Magistra Vitae. Sejarah adalah guru kehidupan. Kesadaran sejarah seorang Siti Fadilah Supari adalah yang mendorongnya untuk melawan. Ketertindasan kita dahulu belum selesai dan merupakan ketertindasan kita yang terus berlanjut hingga hari ini. Sejarah di sini berfungsi dalam arti yang sesungguhnya sebagaimana yang dimaksud di dalam ilmu sejarah. Sejarah berfungsi menumbuhkan kesadaran kepada yang mempelajarinya sehingga mampu mengelola kehidupan hari ini dan masa depan dengan lebih baik. Dari sejarah mampu menumbuhkan kesadaran seorang Siti Fadilah Supari untuk berbuat melawan ketidak-adilan, mengangkat martabat dalam kesetaraan, serta menegakan kedaulatan bangsa, menegakan kemanusiaan! Singkat tujuannya adalah melakukan perubahan, perubahan paradigma agar kehidupan manusia di muka bumi ini sehat sejahtera.
Sebagaimana selalu dikatakan oleh sejarawan terkemuka Indonesia, Prof. Sartono Kartodirdjo (alm), bahwa sejarah (penelitian sejarah yang kemudian dituliskan) tidak sampai pada memberikan suatu rekomendasi untuk suatu kebijakan, tetapi dari sejarah itu akan menginspirasi yang membaca atau mempelajarinya. Begitulah kira-kira Siti Fadilah Supari belajar dari sejarah dan terinspirasi untuk berjuang melawan yang dipikir dan diyakininya selama ini tidak benar bahkan mengancam kehidupan umat manusia di bumi ini.
Banyak bukan orang sembarangan kita ketahui telah memberi komentar terhadap kehadiran dan substansi buku “Saatnya Dunia Berubah, Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung” karya Siti Fadilah Supari ini. Setidaknya sebagaimana yang termuat di dalam buku itu sendiri. Penyakit Flu Burung dengan H5N1-nya oleh sang penulis digunakan sebagai starting point untuk masuk ke pembahasan persoalan yang lebih luas. Buku ini ternyata tidak membahas persoalan penyakit secara teknis ilmu kedokteran ataupun kesehatan sebagaimana orang mungkin membayangkan sebelum membaca sendiri isinya. Maklum saja karena buku ini ditulis oleh seorang dokter yang sekaligus sedang menjabat sebagai Menteri Kesehatan RI. Sekalipun pada sampul buku tertera judul yang sangat jelas memang tidak mengarahkan dugaan bahwa yang dibahas adalah soal penyakit secara teknis.
Kecurigaan-kecurigaannya terhadap kekuatan-kekuatan besar yang terus mempermainkan kekuatan kecil (lemah) diungkapkan secara jelas, tegas sekaligus rasional. Pengungkapannya sungguh merupakan suatu keberanian besar dari seorang wanita Indonesia sehingga layaklah ia disebut sebagai Srikandi, simbol wanita yang berani berjuang dan melawan ketidak-benaran.
Banyak istilah yang baru saya kenal namun tidak menghalangi saya, juga barangkali pembaca lain yang tidak berasal dari bidang kedokteran dan kesehatan, memahami keseluruhan isi buku, termasuk terhadap apa yang ingin dicapai oleh penulisnya dari buku itu. Buku ini memang tidak menjadikan persoalan penyakit dan kesehatan dari sisi teknis dan khusus, melainkan masuk kepersoalan substantif yang lebih luas namun mendasar bagi kehidupan manusia pada masa mendatang. Virus Flu Burung hanya sebagai pintu masuk untuk mengungkapkan dan membahas persoalan politis atau diplomasi global.
Akhisrnya, sengaja atau tidak disengaja (saya tidak mengetahuinya), bahwa buku ini tidak memuat bagian kesimpulan atau penutup. Meskipun demikian, pembaca dengan mudah mendapatkan benang merah yang dapat terajut menjadi kesimpulan yang satu pembaca dengan pembaca lain kiranya tidak jauh berbeda. Intinya adalah uraian perjuangan melawan ketidak-adilan global. Ketidak adilan yang dimainkan oleh “si kuat” terhadap “si lemah”.
Sebenarnya semula ingin saya menyatakan bahwa bagian lima di buku ini yang berjudul “Berpikir Merdeka Merubah Paradigma” merupakan bagian penutup atau kesimpulan, namun tidak jadi. Lebih-lebih lagi di bagian ini tulisannya terasa “aneh”, karena terjadi perubahan gaya bahasa secara drastis. Akibatnya pembaca atau paling tidak saya sendiri, merasa isi uraian buku menjadi kurang harmonis sekalipun bukan pada substansinya.
Demikian yang dapat saya sampaikan, mohon maaf jika terasa kurang pas, terima kasih.