
borsel
Secangkir kopi dan secarik kertas
(kepada Laila Zohrah mhs S3 arsitektur Chiba University Japan)
Thema 1: sungai dan zoning
Isu tentang sungai dan permukiman sedang menjadi perdebatan selama dua sampai tiga dekade ini.
LZ: Apakah pengaruh sungai dalam hubungannya dengan pembangunan regional Kota Banjarmasin?
BS: Pembangunan regional Kota Banjarmasin terpaksa “mempertimbangkan” keberadaan sungai berikut saluran-saluran air buatan (kanal) yang cukup banyak jumlahnya dan telah hadir sejak lama. Meskipun demikian di dalam realitas praktisnya mungkin terjadi yang sebaliknya, yakni pembangunan regional Kota Banjarmasin kurang (tidak) memperhatikan arti penting keberadaan sungai. Hal ini bisa saja terjadi akibat kurangnya kesadaran mengenai arti penting kedudukan dan fungsi sungai atau karena pertimbangan atas dasar hitung-hitungan ekonomi. Kebijakan melaksanakan program pembangunan regional Kota Banjarmasin kurang sesuai atau belum diperlengkapi dengan aturan-aturan yang memadai dan untuk dilaksanakan. Sejauh kurangnya pemahaman terhadap kedudukan dan fungsi sungai bisa saja memunculkan anggapan bahwa keberadaan sungai merupakan kendala bagi terwujudnya pembangunan regional Kota Banjarmasin yang dikehendaki. Sungai yang berkelok-kelok diikuti dengan banyak anak cabangnya dan ditambah lagi dengan banyaknya saluran air buatan (kanal) yang sudah hadir sejak lama di Kota Banjarmasin mungkin justru dianggap penghambat dan sulitnya dalam menata pembangunan kewilayahan Kota Banjarmasin. Pembangunannya bisa berkembang mengikuti jalur-jalur sungai dan kanal secara tidak teratur atau sebaliknya untuk mencapai penataan yang teratur keberadan sungai diabaikan tanpa pertimbangan dampaknya pada masa depan.
LZ: Bagaimana persepsi anda tentang dampak zoning dalam pembentukan built form Kota Banjarmasin?
BS: Masih tampak semerawut akibat kekurangan-tegasan pemerintah dalam menjalankan kebijakannya yang terkait dengan pembentukan built form kota Banjarmasin. Penetapan wilayah sesuai peruntukannnya tampaknya kurang diterapakan secara konsisten dan konsekuen. Selebihnya ada beberapa hal yang terkait dengan keberadaan beberapa jalur air (selain sungai alami) kurang diupayakan untuk dihidupkan (dibuka) kembali.
LZ: Jika zoning bisa dijustikasikan untuk bebererapa tahun dalam keberlangsungan urban growth, apa yang harus disarankan sebagai alternatif untuk mengontrol instrument kota yang bisa membuat lingkungan lebih baik untuk Abad ke-21?
BS: Beberapa jalur air berupa kanal dan anak sungai utama harus kembali dibuka dan dikembalikan sebagian fungsinya, terutama fungsi sebagai jalan air (transportasi) dan pendistribusian volume air. Tidak Setiap jalur air dapat dipersepsikan untuk mengalirkan air berikut limbah yang dibebankan kepadanya menuju ke suatu tempat apalagi ke sungai-sungai utama. Harus dibedakan jalur air untuk kepentingan ini dengan yang untuk kepentingan transportasi dan penyediaan kebutuhan air domestik misalnya. Antara keduanya idak boleh saling terhubung.
Thema 2: Kepadatan
Tingginya kepadatan penduduk, bangunan, dan mixed uses merupakan tindakan komersial untuk berusaha membuat lingkungan binaan menjadi lebih livable.
LZ: Menurut anda, aspek apa dari kepadatan yang bisa dipromosikan dan digunakan bagi sebuah urban experience yang lebih baik?
BS: Aspek sosial-budaya dan sosial ekonomi
LZ: Bagaimana anda merekonsiliasikan strategi tingginya kepadatan urban dan mixed use dengan (rendahnya kepadatan) norma pembangunan sekarang ini di Kota Banjarmasin?
BS: Membuat, menyempurnakan dan menegakan peraturan-peraturan terkait dengan pembangunan tata ruang yang sesuai dengan keadaan wilayah Kota Banjarmasin dengan konsekuen.
LZ: Bagaimana anda mendeskripsikan public preference (general guideline kota) dengan masing-masing group sosial ekonomi?
BS: Terdapat ketidak-seimbangan keberpihakan pemerintah terhadap kelompok-kelompok social ekonomi kota. Hal ini terutama terlihat dari segi praktisnya. Kebijakasanaan atas nama pemerintah bisa terjadi menabrak peraturan yang notabene dibuat oleh pemerintah itu sendiri. Praktek kebijakasanaan semacam ini karena tuntutan kelompok-kelompok seosial ekonomi bermodal kuat. Semangat tak terkendali pembangunan ruko (rumah toko) dan pusat-pusat perbelanjaan besar yang modern merupakan bukti ketidak pedulian terhadap kelompok-kelompok social ekonomi lemah. Kebijakansanaan seperti itu jelas membesarkan yang sudah besar sebaliknya akan menghancurkan (‘membunuh’) yang kecil.
Thema 3: Urban Form
Berdasarkan atas physical characteristic dan lokasi/geografi, selama beberapa abad Kota Banjarmasin telah dan sedang dideskripsikan sebagai kota urban atau suburban. Pada saat suburban direncanakan seperti pembangunan kawasan di setiap kecamatan untuk CBD sekarang ini, urban cores kemungkinan akan relatif berkurang.
LZ: Bagaimana anda mempersepsikan dinamika urban/suburban untuk Abad ke-21?
BS: Tinggal setahun dan beberapa bulan lagi kita akan meninggalkan satu dasa warsa pertama Abad ke-21. Sampai di sini, kita memang belum menerima dampak buruk yang berarti akibat dinamika urban dan suburban Banjarmasin. Paling tidak dampak itu kurang dirasakan. Akan tetapi, mengingat kondisi geografi dan lokasi Kota Banjarmasin bukan tidak mungkin perkembangan kota ini akan mengalami stagnan sebelum abad ke-21 berakhir. Banjarmasin berikut suburbannya akan menjadi kota yang tidak lagi nyaman untuk dihuni tanpa pengendalian populasi (urban population) dan ketepatan dalam perencanaan tata ruang kota yang sesuai dengan kondisi geografisnya.
LZ: Jika anda sudah mempunyai konsep visual yang berbeda yang lebih baik bagi pola pertumbuhan kota, bagaimana anda mendeskripsikan the new mix dan apa yang bisa menjadi karakteristik utama?
BS: Banjarmasin barangkali masih dapat dipertahankan sebagai kota perdagangan yang sudah disandangnya sejak beberapa abad lalu atau sebagai pintu masuk bagi wilayah Kalimantan Selatan khususnya. Kota ini juga dapat diarahkan menjadi kota pariwisata yang spesifik sesuai kondisi geografinya. Bahwa keberadaan perairannya dan rawa bukan kendala melainkan merupakan potensi yang dapat digarap dan dikembangkan untuk pariwisata dimaksud.
Thema 4: Hubungan
Telah menjadi beberapa perdebatan antara bentuk fisik dari urban space (seperti lebar jalan, tinggi bangunan, detail arsitektur, jarak entrance dan halaman (GSB), pola jalan dan lain-lain), dan tingkah laku dan norma sosial dari permukiman urban. Beberapa profesional telah mencoba membuat detail design guidlines untuk kesuksesan urban spaces.
LZ: Bagaimana anda melihat hubungan tersebut?
BS: Guidelines untuk pembangunan dan perkembangan kota penting apalagi yang sesuai dengan keadaan wilayah Kota Banjarmasin. Akan tetapi, lebih penting lagi adalah mentaati guidelines yang telah disusun itu. Yang juga tak kalah penting adalah terus menerus mengevalusi guna menyempurnakan dan memperbaiki hal-hal yang kurang tepat dari guidelines yang telah dibuat.
LZ: Konteks fisik apa yang bisa anda hubungkan untuk sebuah urban experience yang lebih baik?
BS: Pembangunan permukiman, rehabilitasi besar terhadap kanal-kanal dan anak sungai-anak sungai, menyediakan kolam (pond area) di beberapa titik wilayah, tidak membangun jembatan secara datar yang melintas di setiap kanal atau sungai.
LZ: Bagaimana anda menjelaskan kesuksesan pembangunan Kota Banjarmasin dan harapan yang menarik bila dibandingkan dengan pembangunan Kalimantan Selatan?
BS: Kesuksesan pembangunan Kota Banjarmasin (fisik) harus dilihat dari kesuksesannya terhadap adanya keseimbangan dan keserasian antara pembangunan di daratan dan perairan. Harapan yang menarik adalah adanya wacana (agak serius) untuk memindahkan pusat kegiatan pemerintah tidak lagi di Kota Banjarmasin. Bila ini serius dan dapat diwujudkan ada harapan pembangunan Kalimantan Selatan akan lebih baik lagi.
Thema 5: Bangunan Kuno
Seperti yang tertulis di beberapa buku sejarah tentang Kota Banjarmasin, ada banyak peninggalan bangunan bersejarah di beberapa kawasan kota. Telah menjadi perdebatan perlu dan tidaknya dipertahankan bangunan bersejarah tersebut.
LZ: Bagaimana anda menindaklanjuti tentang hilangnya beberpa bangunan kuno di sekita kota tersebut sekarang ini?
BS: Sulit menjawabnya, sebab pertanyaan mana yang dimaksud dengan bangunan kono di Kota Banjarmasin? Bangunan kuno yang merupakan hasil kebudayaan material penduduk Banjarmasin (Orang Banjar) yang masih ada dan orang tidak menyadarinya adalah kanal (antasan) Kuin. Orang Banjar mempunyai kebiasaan membangun kanal-kanal sejak berabad-abad yang lalu bahkan sampai sekarang. Mereka membangun kanal dengan sebutan (istilah) yang berbeda-beda, ada yang disebut anjir, handil dan saka serta ada pula yang disebut antasan dan tatah. Ini merupakan keistimewaan yang dimiliki Orang Banjar yang barangkali tidak ditemui pada suku atau kelompok masyarakat lain. Rasanya sudah tidak ada lagi dan tidak kita ketahui adanya bangun kuno di Kota Banjarmasin. Yang ada dan pernah kita ketahui barangkali yang biasa disebut sebagai bangunan bersejarah. Inipun yang dimaksud biasanya pada konteks sejarah kontemporer, berkaitan dengan tempat-tempat yang dianggapi mempunyai nilai historis dari masa perang kemerdekaan Indonesia. Bagi saya hal ini tidak terlalu merisaukan sejauh kita tidak lagi menganggapnya fungsional. Bila untuk fungsi pendidikan bisa dapat disiasati dengan mendokumentasikannya dan merekamnya dalam berbagai jenis alat perekam modern. Dengan begitu kita memberi kesempatan untuk menggunakan ruang kepada anak cucu seusai fungsi dan kebutuhan zamannya.
LZ: Kawasan mana yang perlu dikonservasi, kenapa?
BS: Kawasan Antasan Kuin. Sebab ini penting sebagai symbol kemampuan peradaban Orang Banjar dan terkait dengan masa awal Kerajaan Banjar didirikan, di samping juga karena masih fungsional untuk segi apapun. Begitupun dengan beberapa anjir yang meskipun dibangun atas inisiatif colonial namun berdasarkan catatan sejarah konsep dasar (asli) dan pengerjaannya adalah oleh orang Banjar.
LZ: Kawasan mana saja yang perlu dikembangkan dan dibangun untuk rekreasi, permukiman tradisional, dan fasilitas yang diperlukan?
BS: Tentu saja kawasan Antasan Kuin. Selain itu, perlu dipertimbangkan untuk kawasan Sungai Jingah, Kampung Melayu, Pangambangan, Banua Anyar, Telawang, Pelabuhan Lama (Martapura), dan Basirih. Fasilitas rumah inap, perahu rombong makan/minum, tempat memancing berikut perlengkapannya, perahu memancing, perahu pengangkutan penumpang, dermaga (lanting), dsb.
Thema 6: Climate Change
Berbagai isu hangat muncul dalam beberapa dekade mengenai pemanasan global, begitu juga dengan perubahan Kota Banjarmasin.
LZ: Bagaimana pendapat anda dengan perubahan iklim Kota Banjarmasin?
perbedaan yang paling menonjol antara jogya-bjm soal sepi dan rame. tapi, bagus sepi. kita bisa chatting sepuasnya ya
ho oh, tul juga pendapat ente.
Lebih bagus lagi kalau mahasiswa Banjarmasin studi wisata ke jogja saat minggu tenang, bumbata (buka mata buka telinga)gitu.