Humaidy
Ulasan terhadap “Infrastruktur Pelayaran Sungai Kota Banjarmasin Tahun 1900-1970”, oleh Bambang Subiyakto dalam Freek Colombijn et al. (eds.), Kota Lama, Kota Baru: Sejarah Kota-Kota di Indonesia, Jojakarta: Ombak dan Netherlands Institute for War Documentation, 2005, hal. 336-358.
Sekitar tahun 1998-an, saat tampuk pemerintahan Indonesia dipegang oleh presiden Prof. Dr. Ing. BJ. Habibi, IAIN Antasari Banjarmasin sempat dikunjungi Menteri Agama Prof.Dr.H. Malik Fajar dalam rangka menjadi Keynote Speaker suatu seminar.
Dalam suatu kesempatan, mutar-mutar keliling meninjau kampus IAIN Antasari, beliau berkomentar:”Seharusnya bangunan kampus IAIN Antasari ini, didesain dan dibangun sesuai atau berdasarkan perilaku alam Kalimantan Selatan sebagai Kota Seribu Sungai, bukannya dipaksakan semacam bangunan yang cocoknya di daerah yang permukaan tanahnya keras”. Artinya, melakukan pembangunan kampus IAIN Antasari secara obyektif mengikuti atau beradabtasi dengan lingkungan yang ada.
Rupa-rupanya beliau melihat, kawasan kampus IAIN Antasari ini, banyak endapan-endapan air, penuh rawa-rawa dan mungkin dulunya merupakan anak sungai yang mengalami pendangkalan, penyempitan, dipampan dan kemudian dimatikan dengan menimbun tanah secara paksa di atas permukaannya.
Mungkin beliau membayangkan seandainya kampus IAIN Antasari ini, didesain dan dibangun sesuai dengan perilaku alam Kalimantan Selatan, akan ada berbagai bangunan tradisional Rumah Banjar yang ramah lingkungan, baik berupa Rumah Palimasan, Rumah Gajah Baliku maupun Rumah Gajah Manyusu [1]bagi bangunan pusat perkantoran, Fakultas-fakultas, Perpustakaan, Masjid, Asrama Mahasiswa, Perumahan Dosen, Auditorium, Aula dan lembaga-lembaga IAIN lainnya. Di bawah setiap bangunan yang biasanya rumah panggung masih mengalir air dengan bebasnya tanpa ada halangan dan rintangan sehingga apa yang ada di atasnya merasa sejuk dan nyaman.
Kemudian ada jalan beraspal yang menghubungkan antar seluruh bangunan, tanpa harus menutup saluran bagi berjalannya lika-liku air, bahkan justru tetap berdampingan secara sejajar untuk saling memperindah satu sama lain. Sebelah-menyebelah jalan ada anak sungai yang tetap dipertahankan, tidak mengalami pendangkalan, penyempitan dan penimbunan, melainkan terus mengalir bebas yang juga ikut menghubungkan antar bangunan yang satu dengan bangunan yang lainnya. Di sisi kiri dan kanan jalan dihiasi dengan pohon-pohon rindang, di atas permukaian air ditanam bunga teratai, dan di depan berbagai bangunan ada beberapa taman yang memadukan taman di air dengan taman di tanah. Betapa akan indah kampus IAIN Antasari tidak hanya menjadi tempat pendidikan, tetapi juga sekaligus menjadi tempat rekreasi, pelestarian budaya, pengayaan ruhani, dekat dengan alam dan mesra mencumbu lingkungan.
Sungguh sayang gambaran indah ini hanya sebatas bayangan atau berandai-andai saja, sampai sekarang belum menjadi sebuah kenyataan. Justru kenyataan yang ada kebalikan dari yang dibayangkan, anak sungai dan aliran air, terus saja mengalami proses pendangkalan, penyempitan, dipampan dan dimatikan. Entah kapan berhenti, saya tak habis mengerti. Yang jelas kenyataan masih sangat jauh dari harapan, tetapi usaha untuk ke arah sana harus tetap terus dilakukan tanpa kenal putus asa dan bak api tak kunjung padam.
Memang fenomena ini, tidak semata-mata terjadi di kawasan IAIN Antasari, banyak lagi di kawasan lain di Kota Banjarmasin mengalami hal yang sama bahkan terkadang lebih parah lagi, seiring terjadinya perubahan tata nilai masyarakat Banjar dari orientasi perairan berubah ke orientasi pertanahan atau daratan. Hal ini terjadi karena pemerintah tidak serius membuat kebijakan dalam membangun infrastruktur pelayaran secara khusus dan perairan secara umum, sehingga semakin marak pembangunan pemukiman penduduk tanpa memperhatikan perilaku alam dan wawasan lingkungan sebagai Kota Seribu Sungai, termasuk pembangunan pertokoan, plaza, swalayan dan ruko yang terkadang menggunakan tepian bahkan berada di atas bantaran sungai sehingga terjadi pendangkalan, penyempitan, memampan dan mematikan aliran air.
Hal inilah yang menjadi salah satu kekhawatiran sekaligus keprihatinan Bambang Subiyakto, salah seorang Dosen Jurusan Sejarah FKIP Unlam Banjarmasin, di dalam buku bunga rampai “Kota Lama Kota Baru”. Bambang dalam kesimpulan tulisannya menyatakan masyarakat Banjar sudah mulai berubah, sudah melupakan budaya sungainya yang merupakan bagian eksistensi dan esensi jati dirinya. Padahal dahulu masyarakat Banjar sangat akrab dengan lingkungannya sehingga mereka sangat tau bagaimana cara memperlakukannya baik dalam menghadapi ancaman, tantangan maupun dalam menggunakan untuk peluang dan keuntungan .
Bambang memulai tulisannya dengan mengemukakan keunikan Banjarmasin, sebagai kota yang secara puitis disebutnya dengan Kota Seribu Sungai. Posisi Kota Banjarmasin sesungguhnya dikelilingi oleh sungai-sungai besar yang sangat vital fungsinya bagi pelayaran. Sungai-sungai itu sebagai prasarana penghubung Banjarmasin dengan daerah lain di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Selain Sungai Barito dan Sungai Martapura, di wilayah Kota Banjarmasin mengalir pula beberapa sungai ukuran sedang seperti Sungai Andai, Sungai Kuin, Sungai Alalak, Sungai Tatas, Sungai Kalayan dan Sungai Pekapuran. Sementara itu tidak terhitung jumlahnya anak sungainya masing-masing dan lebih tidak terhitung lagi banyaknya cabang-cabang dari anak-anak sungai tersebut entah berapa banyaknya. Untuk mudahnya lalu disebutlah Kota Banjarmasin sebagai Kota Seribu Sungai.
Semua sungai itu, merupakan cabang dan anak cabang dari Sungai Barito. Oleh sebab itu, kedudukan Sungai Barito menjadi sangat penting bagi keadaan lingkungan perairan Kota Banjarmasin. Sungai Barito luas muaranya lebih dari dua kilometer dan panjangnya sekitar 900 kilometer. Sungai ini tergolong sangat besar yang ada di permukaan bumi. Dari Sungai ini ada pengaruh kekuatan hidrodinamika terhadap lingkungan perairan lainnya di wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Pengaruh itu berupa kemampuan memberi keseimbangan terhadap gerak perairan di kedua wilayah tersebut.
Pengaruh kekuatan hidrodinamika Sungai Barito menciptakan arus lemah bagi lingkungan perairan di sekitarnya. Seluruh jalur air yang terdapat di Kota Banjarmasin adalah yang paling besar menerima pengaruh kekuatan hidrodinamika Sungai Barito itu. Kandungan air Sungai Barito yang sangat besar dengan daya dorongnya yang sangat besar pula menyebabkan terciptanya gerak air pasang surut di seluruh wilayah perairan sekitarnya.
Dalam waktu 24 jam sungai-sungai dengan segenap cabang-cabangnya di Kota Banjarmasin tidak mengalir satu arah. Ada saat air mengalir ke hulu, saat itu permukaan air naik dan merupakan masa air pasang. Sebaliknya, saat air mengalir ke hilir, saat itu permuakaan air turun dan merupakan masa air surut. Sementara, saat berlangsungnya peralihan antara masa air pasang dan masa air surut, permukaan air terhenti tenang beberapa saat. Pada saat itu tidak terjadi gerak arus air ke hulu atau ke hilir. Permukaan air ketika itu berada pada posisi tertinggi dan sedang pasang-pasangnya. [2]
Melihat kenyataan alam Banjarmasin seperti itu, nenek moyang masyarakat Banjar selama berabad-abad melakukan proses pembelajaran yang terus-menerus sehingga melahirkan berbagai kearifan lokal antara lain meliputi: tekhnologi, kesenian, sistem religi, kosmologi, sistem sosial, sistem pengetahuan, sistem simbol dan sebagainya.
Bambang dalam buku ini mengangkat salah satu dari kearifan lokal masyarakat Banjar yang terkait dengan sistem pengetahuan yakni pembangunan kanal untuk irigasi pertanian sekaligus transfortasi ke daerah-daerah pedalaman. Kata Bambang, membangun kanal bagi orang Banjar merupakan kebiasaan dan suatu keahlian yang diwariskan turun-temurun dari masa ke masa dari generasi kegenerasi. Hal ini sudah berlangsung berabad-abad lamanya, ketika mereka menghadapi keadaan alam Kota Banjarmasin yang memang lingkungannya penuh sungai dengan beribu-ribu cabangnya yang pasang-surut.
Sedikitnya masyarakat Banjar mengenal tiga macam kanal. Pertama, Anjir (ada juga yang menyebutnya Antasan) yakni semacam saluran primer yang menghubungkan antara dua sungai. Anjir berfungsi untuk kepentingan umum dengan titik berat sebagai sistem irigasi pertanian dan sarana transfortasi. Kedua, Handil (ada juga yang menyebut Tatah) yakni semacam saluran yang muaranya di sungai atau di Anjir. Handil dibuat untuk menyalurkan air ke lahan pertanian daerah daratan. Handil ukurannya lebih kecil dari Anjir dan merupakan milik kelompok atau bubuhan tertentu. Ketiga, Saka merupakan saluran tersier untuk menyalurkan air yang biasanya diambil dari Handil. Saluran ini berukuran lebih kecil dari Handil dan merupakan milik keluarga atau pribadi. Anjir, Handil dan Saka mempunyai fungsi utama sebagai irigasi pertanian dalam arti luas dan prasarana transfortasi ke berbagai daerah. [3]
Kemampuan dan kebiasaan orang Banjar menjawab pengaruh sungai pasang surut dengan membuat kanal merupakan keistimewaan sekaligus membuktikan tingkat peradaban yang dimiliki. Mereka mampu membangun kanal yang panjangnya mencapai puluhan kilometer hanya dengan kekuatan tangan. Kanal-kanal itu dibangun menggunakan alat sangat sederhana yang disebut Sundak, cara penggunaannya benar-benar bertumpu pada kekuatan tangan. Alat ini terbuat dari kayu ulin tipis atau lempengan baja berukuran lebar 20 cm dan panjang 35 cm.
Schophuys menyatakan bahwa kanal yang disebut sebagai Anjir, Handil dan Saka betul-betul karya asli masyarakat Banjar yang disebutnya sebagai sistem irigasi orang Banjar. Hasil pembelajaran sangat cerdas nenek moyang masyarakat Banjar terhadap lingkungannya yang sudah berabad-abad lamanya. Ia menilai sistem irigasi itu sangat khas sistem irigasi orang Banjar dalam rangka menjawab tantangan dari sebuah kota yang banyak memiliki sungai yang pasang surut. Kanal memiliki multi-fungsi karena dalam kedudukan utama yang sama pentingnya adalah untuk pertanian, jalur pelayaran, pengangkutan barang, di samping untuk kebutuhan air minum, cuci dan mandi. [4]
Masyarakat Banjar banyak membangun Anjir di Kota Banjarmasin yang disebut sebagai Antasan seperti Antasan Besar, Antasan Kecil, Antasan Raden dan Antasan Bondan. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, digagas J.J. Meijer (1880), membangun Anjir Serapat yang sepenuhnya menggunakan cara dan tenaga kerja orang Banjar. . Gagasan itu kemudian dilaksanakan oleh W. Broers pengganti Meijer, untuk memulai membangun Anjir Serapat. Anjir ini menghubungkan daerah Banjarmasin dan Kapuas dengan ukuran lebar 30 m, panjang 28 km dan kedalaman 3 m berhasil diselesaikan tahun 1890.
Pada tahun 1935 Morggenstorm penguasa saat itu melakukan perbaikan dan pembersihan Anjir Serapat karena mengalami pendangkalan dan kotor. Nampaknya ini suatu bentuk perhatian dan pemeliharaan atas infrastruktur transfortasi air. Bahkan pada tahun 1938, Morggenstorm menganggap perlu untuk menambah lagi sebuah Anjir, yang kemudian disebut Anjir Tamban, dibangun sepanjang 32 km menghubungkan sungai Barito dan Kapuas Murung di daerah bagian barat Kota Banjarmasin.
Pada masa kemerdekaan, putera asli Banjar Pangeran Muhammad Noor terdorong untuk melaksanakan pembangunan kanal secara nasional. Ketika itu ia menjabat selaku menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Kerja pada masa-masa awal pemerintahan presiden Soekarno. Salah satu programnya adalah Proyek Kanalisasi Nasional. Tahap pertama realisasi program itu dimulai dengan membangun kanal raksasa yang akan menghubungkan wilayah Kalimantan Selatan sampai Kalimantan Barat. Sayang program ini mengalami kegagalan lantaran dihentikan, seandainya berlanjut mungkin perkembangan Kota Banjarmasin tidak seperti sekarang.
Meskipun gagal membangun kanal besar, bukan berarti pembangunan kanal berhenti, bahkan justru terus berlangsung. Dua buah Anjir dibangun lagi pada tahun 1950 secara bersamaan, masa gubernur Murjani yaitu Anjir Basarang dan Anjir Kalampan. Kemudian tahun 1961dibangun Anjir Balandean dan tahun 1965 menyusul Anjir Berangas yang keduanya terletak di daerah bagian utara Kota Banjarmasin. [5]
Dari pembangunan Anjir atau Antasan ini, mendorong masyarakat Banjar membangun banyak Handil atau Tatah. Menurut Amir Hasan Kiai Bondan bahwa antara tahun 1924 dan 1927 masyarakat Banjar masih terus membangun Handil. Jumlahnya mencapai ratusan buah dengan panjang setiap Handil mencapai puluhan kilometer. Pada tahun 1940 dan 1950-an kembali dibangun ratusan Handil baru. Handil-handil yang dibangun waktu itu terutama di daerah Kelayan dan Pemurus. Sebut saja beberapa sebagai contoh seperti Tatah Layap, Tatah Pamangkih, Tatah Bangkal, Tatah Belayung, Tatah Pelatar, Handil Jatuh, Handil Bintangur, Handil Malintang, Handil Parit, Handil Babirik, Handil Kabuwau dan lain-lain.
Demikian juga dengan Saka, yang banyak dibangun oleh petani-petani Banjar dengan lebar antara dua dan empat meter serta kedalaman tidak lebih dari 2.5 meter. Sedangkan panjangnya bervariasi dari satu kilometer sampai dengan 10 kilometer yang muaranya bisa ke Handil, Anjir bahkan Sungai. Saka yang tidak terhitung banyaknya ini di Kota Banjarmasin saat ini hampir sudah tidak dikenali lagi. Hanya ada satu yang sampai kini masih diketahui, itupun tidak berupa Saka lagi, sudah menjadi nama perkampungan atau jalan tembus yakni Saka Permai.
Anjir, Handil dan Saka hubungan dengan transportasi, sarana yang digunakan adalah perahu kecil atau Jukung (sampan) dengan berbagai jenisnya (Sudur, Bakapih, Anak Rimpang, Pelanjaan, Tambangan, Pandan Liris, Batambit, Bugiwas, Tiung, Hayawan, Kelotok, Patai, Rangkan, Getek, Undaan, Parahan, Paiwakan, Katinting, Peramuan dan Serdangan) [6] dan Lanting (rakit yang terbuat dari bambu). Tujuannya cukup beragam, untuk kegiatan pertanian, mencari ikan, berdagang, angkutan barang, angkutan orang, pelayaran dan rekreasi baik untuk jarak dekat maupun jarak jauh.
Vergouwen dan Mallinckrodt mengemukakan bahwa dalam menguasai jalur-jalur air (terutama sungai, Anjir dan Handil) oleh bubuhan di bawah kepala-kepala mereka yang memiliki kewenangan misalnya memungut tarif tol 1/10 dari barang-barang hasil hutan, pertanian dan sejenisnya. Hasilnya menurut aturan adat, ditujukan untuk biaya pemeliharaan hutan dan jalur air. Meskipun demikian, seperti dikatakan Vergouwen selanjutnya, hasil itu lebih merupakan pendapatan bagi para kepala bubuhan.
Sejak zaman merdeka, bahkan menjelang masa-masa berakhirnya Pemerintahan Kolonial Belanda, tampaknya penarikan tarif tol telah ditiadakan. Terutama yang dimaksudkan penarikan oleh para kepala bubuhan atau kelompok masyarakat. Jalur-jalur semacam itu di dalam Kota Banjarmasin telah menjadi jalur umum. Jalur-jalur air sepenuhnya berada di bawah penguasaan pemerintah terutama jalur-jalur penting seperti sungai dan Anjir dikenakan retribusi.
Pada masa Kolonial Belanda, bagi yang menggunakan jukung, perahu atau kapal untuk tambangan diharuskan memiliki surat izin. Berdasarkan ketentuan tentang menjalankan usaha tambangan (Bepalingen op de uitoefening van het Tanbanganbedriif) tahun 1941 pada pasal 6 ayat a menyatakan:”Dilarang untuk menjalankan profesi sebagai tukang tambangan di ibukota-ibukota dan daerah-daerah tanpa izin tertulis dari kepala penguasa setempat. Permohonan izin akan ditolak, kecuali dengan alasan menyangkut kepentingan umum, yang dalam penolakan itu disebutkan, apa kepentingan umum itu”. [7] Kemudian pada pasal 6 ayat c mengharuskan kepada tukang tambangan yang dengan perahunya berpangkalan di muka suatu rumah, gudang, pabrik atau halaman diharuskan memberi tempat kepada perahu lain yang akan digunakan oleh pemilik, penyewa atau pemakai dari gedung atau halaman tersebut untuk memuat atau menurunkan barang-barangnya. Pada ayat d dikenakan ketentuan bagi para tukang tambangan yang perahunya terletak berjajar dengan perahu lainnya untuk memberi izin perahu yang ada di sampingnya. Sementara itu, ayat e menyatakan bahwa papan yang menghubungkan tambangan dengan dermaga milik suatu perahu tidak boleh menjulur jauh ke jalur umum yang dapat menyebabkan terganggunya lalu lintas. [8]
Mengenai penguasaan dan retribusi dilakukan oleh pemerintah. Pada masa pemerintah Kolonial Belanda berdasarkan ketentuan usaha tambangan tahun 1941, sedangkan masa kemerdekaan misalnya tertuang pada Perda Propinsi Kalimantan No.5 tanggal 24 Juli 1953 tentang lalu lintas dan pemungutan retribusi lalu lintas dalam terusan-terusan yang dikuasai oleh daerah Propinsi Kalimantan.
Pada setiap jalur air menjadi tempat terkonsentrasinya populasi penduduk atau menjadi sebuah pemukiman. Tempat tinggal dibangun berupa rumah panggung tepat di bibir sungai atau Anjir, dan ada sebagian rumah yang tiang penyangganya berada di air. Dalam hal serupa dibangun pula sarana ibadah berupa masjid atau langgar. Sebagian lain, berupa Rumah Lanting yaitu rumah ukuran kecil di atas susunan batang kayu gelondongan yang terapung di air, ada yang sebagai tempat tinggal, tempat berjualan, tempat mandi-cuci-kakus (jamban) yang terkadang sekaligus berfungsi sebagai dermaga untuk jukung, perahu atau kapal sungai bersandar dan bertambat. Yang disebut terakhir juga menjadi tempat menurunkan dan menaikkan barang ke jukung, perahu atau kapal sekaligus tempat orang melakukan transaksi jual beli dengan para penjaja yang ramai. [9]
Pendek kata, dengan sistem irigasi Banjar yakni Anjir, Handil dan Saka ini masyarakat Banjar dikenal sebagai masyarakat yang sangat kental budaya sungainya. Artinya, peradaban Banjar tumbuh berkembang terkait secara inheren dengan kebudayaan sungai karena sungai bagi masyarakat Banjar merupakan keseluruhan aspek kehidupannya, sistem religi, kosmologi, sistem pengetahuan, tekhnologi, sistem simbol, kesenian, sistem sosial dan lain-lain. Tanpa sungai bisa dikatakan masyarakat Banjar kehilangan identitasnya. Lebih dari itu, tanpa sungai atau kehilangan budaya sungai adalah merupakan pembunuhan secara teologis masyarakat Banjar dari akar tradisi spiritualnya, karena mereka akan kehilangan orientasi, arah dan tujuan hidup. Mereka akan mengalami kegelapan untuk mencari jalan kebenaran yang terang benderang.
Berdasarkan pemikiran Bambang di atas, revitalisasi sungai di Kota Seribu Sungai Banjarmasin adalah suatu keniscayaan yang tak bisa ditunda-tunda lagi untuk dilakukan. Dalam konteks ini saya sangat setuju dan mendukung berat pemindahan ibukota Kalimantan Selatan yang dicanangkan Gubernur Rudy Arifin dan Wakil Gubernur Rosehan NB dari Banjarmasin ke Banjarbaru, kalau perlu dalam waktu yang segera. Mengingat Kota Banjarmasin sudah demikian padatnya pemukiman penduduk, belum lagi bangunan pabrik, perkantoran pemerintah, Hotel, gedung, Swalayan, Plaza, Ruko, lembaga pendidikan dan lain-lain yang tidak tertata secara baik dan jauh sekali dari wawasan ramah lingkungan, telah semena-mena membuat proses pendangkalan, penyempitan, pemampanan dan pematian sungai dan anak sungai terus berlangsung tanpa bisa diramal kapan berhentinya.
Saya juga setuju usul Bambang agar kebijakan daerah membangun dan memelihara infrastruktur di sektor perairan kembali digalakkan karena ternyata kebijakan transfortasi darat yang ada, masih tidak sanggup mencapai daerah-daerah terpencil dan jauh di pedalaman. Apalagi perkembangan saat ini dari transfortasi darat, biayanya semakin mahal. Di sini pengembangan kembali transfortasi air yang murah, bukan saja bisa menjadi alternatif bahkan semakin relevan. Apalagi jalur transfortasi darat terutama di dalam kota sudah sangat padat degan berbagai kendaraan, maka transfortasi air bisa menjadi jalan keluar mengurangi kemacetan, polusi udara dan ketidaknyamanan bepergian. Coba bayangkan Kota Jakarta dan Kota Surabaya yang bukan kota sungai saja saat ini mulai mau menghidupkan transportasi air dengan memfungsikan sungai Kalideres, Citarum dan Kalimas sebagai lalu lintas yang sama sejajar dengan jalan-jalan yang ada di daratan. Aneh, jika Kota Banjarmasin yang dikenal sebagai Kota Seribu Sungai justru mengabaikan transportasi air dan membiarkan banyak sungai, Anjir, Handil, Saka dan sebagainya mengalami proses pendangkalan, penyempitan, pemampanan dan pematian akibat pembuangan sampah sembarangan, pembangunan pemukiman yang serampangan, penataan bangunan pasar yang hanya berdasarkan keuntungan ekonomi tanpa wawasan lingkungan, pabrik yang memproduksi berbagai limbah pencemaran dan kebijakan yang semakin meminggirkan kebudayaan sungai..
Agar harapan Bambang tak sia-sia atau hanya menjadi nostalgia, semua pihak baik para pejabat, akademisi, cendekiawan, wartawan, mahasiswa, pemuda, ormas, orpol maupun ulama dan LSM di Kota Banjarmasin untuk saling bahu membahu singsingkan lengan baju membangun kembali budaya sungai yang sudah mulai diabaikan. Jadikanlah kembali sungai sebagai salah satu sumber membangun manusia Banjar secara seutuhnya, baik kehidupan jasmani maupun ruhani, individual ataupun sosial, dan struktural atau kultural. Diiringi dengan aksi nyata memulihkan kembali, sungai, Anjir, Handil dan Saka untuk berpungsi lagi. Yang dangkal didalami, yang sempit diluasi, yang pampan dibongkari dan yang mati dihidupi kembali bahkan kalau perlu bangun lagi sebanyak-banyaknya Anjir, Handil dan Saka baru. Selamat Berjuang, Haram Manyarah selama masih ada kemauan, kekuatan, kepercayaan dan keyakinan.
Penulis adalah Staf Khazanah Lokal LK3, Dosen F.Tarbiyah IAIN Antasari, sedang menempuh Program Doktor di UIN Su-Ka Yogyakarta.
if you have time please open http://www.melayuonline.com
salam bapak
me,
salam anak
salam salaman ya
semoga sungai ttp mjd pesona tersendiri bagi Kota Seribu Sungai kita yg tercinta
sungai”nya lah yg membuat cantik Kota Banjarmasin
ya, yang membuat jadi langkarnya kota apalagi ditambahi aluhnya langkar-langkar, he he …
sungai mengalir sungai besar pun sepertinya ikut kering, entahlah. salam kembali